- Hashim Djojohadikusumo menyatakan teknologi penangkap karbon di Petrokimia Gresik mampu menurunkan emisi karbon dioksida secara signifikan.
- Teknologi penangkapan karbon tersebut juga menghasilkan produk soda abu dan soda kue guna mengurangi ketergantungan impor.
- Kementerian Perindustrian mendorong penerapan teknologi rendah karbon untuk mempercepat target net zero emission sektor manufaktur tahun 2050.
Suara.com - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan teknologi penangkap dan pemanfaatan karbon atau Carbon Capture and Utilization (CCU) tidak hanya berpotensi menekan emisi karbon industri.
Akan tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui produksi soda abu (soda ash) dan soda kue (baking soda) untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Teknologi tersebut menjadi salah satu solusi yang didorong untuk diterapkan di industri nasional, termasuk pabrik dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.
"Ternyata ada teknologi dari Jepang, juga dari Taiwan dan sebagainya, yang dipakai di Petrokimia Gresik," ujar Hashim di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk menekan emisi, tetapi juga menghasilkan produk sampingan yang memiliki nilai ekonomi. Soda abu menjadi salah satu produk yang berpotensi membantu memenuhi kebutuhan domestik yang selama ini masih bergantung pada impor.
Pemerintah, kata Hashim, juga tengah menyusun skema insentif bagi perusahaan yang memasang teknologi penangkap karbon. Penerapannya dinilai dapat diperluas ke pembangkit listrik yang menggunakan batu bara.
"Semua stasiun listrik, pembangkit listrik yang memakai batu bara bisa hidup terus-menerus," ujarnya.
Pengembangan teknologi CCU di Petrokimia Gresik sebelumnya telah menjadi bagian dari inisiatif Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di bawah kepemimpinan Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK).
Pada November 2025, Kemenperin melaporkan hasil uji coba teknologi CCU selama enam bulan di Petrokimia Gresik. Berdasarkan hasil pengujian yang diverifikasi Sucofindo sebagai surveyor independen, teknologi tersebut diklaim mampu menurunkan emisi karbon dioksida hingga lebih dari 95 persen.
Selain menekan emisi, teknologi ini diproyeksikan memungkinkan Petrokimia Gresik menghasilkan soda abu hingga satu juta ton per tahun. Jumlah tersebut disebut berpotensi menggantikan seluruh impor soda abu setiap tahunnya.
Potensi nilai ekonominya diperkirakan mencapai 200 juta dolar AS atau sekitar Rp3,6 triliun per tahun. Teknologi yang sama juga dapat menghasilkan soda kue, produk yang selama ini masih diimpor Indonesia.
Dengan demikian, penerapan CCU berpotensi memberikan manfaat ganda bagi industri, yakni mengurangi emisi karbon sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru dari produk sampingan. Meski demikian, potensi produksi dan pendapatan tersebut perlu dibedakan dari realisasi operasional dan penjualan komersial.
Kemenperin juga menyebut teknologi tersebut berpeluang diterapkan pada industri penghasil emisi karbon dioksida lainnya, seperti semen, kimia, baja, dan keramik.
Pengembangan CCU merupakan bagian dari upaya lebih luas Kemenperin dalam mendorong transformasi industri hijau. Pada masa kepemimpinan AGK, Kemenperin mempercepat target net zero emission (NZE) sektor manufaktur menjadi 2050, atau satu dekade lebih cepat dibandingkan target nasional pada 2060.
Peta jalan dekarbonisasi disusun untuk sembilan subsektor industri yang menjadi penyumbang emisi besar, yakni semen, pupuk amonia, logam, pulp dan kertas, kimia, tekstil, keramik dan kaca, makanan dan minuman, serta otomotif.
Peta jalan tersebut mencakup enam pilar, mulai dari efisiensi energi dan material, substitusi bahan bakar, elektrifikasi, penggunaan energi terbarukan, hingga teknologi penangkapan karbon. Perusahaan di sembilan subsektor itu juga diwajibkan melaporkan emisi gas rumah kaca secara berkala melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).
Dalam pengembangan industri hijau, AGK turut mendorong pemanfaatan teknologi rendah karbon yang dapat diterapkan tanpa membebani pelaku industri secara berlebihan.
"Dekarbonisasi industri bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang bagi Indonesia menjadi pemimpin regional industri rendah karbon," kaa Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa.
Selain manfaat lingkungan, transformasi industri hijau diproyeksikan menciptakan nilai tambah ekonomi Rp700 triliun hingga Rp1 kuadriliun pada 2030. Transformasi tersebut juga diperkirakan dapat menambah 0,4 sampai 0,7 poin persentase pertumbuhan ekonomi per tahun serta membuka 3,5 juta hingga 5 juta lapangan kerja.