- Kementerian ESDM dan PT Pupuk Iskandar Muda membahas tambahan pasokan gas di Lhokseumawe pada 17 Oktober 2026.
- Pemerintah mengkaji potensi gas dari Gebang, Bontang, DSLNG, serta lapangan Andaman dan Masela untuk mendukung operasional pabrik.
- Keberlanjutan produksi pupuk ini berdampak positif bagi perekonomian daerah, perluasan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi Aceh.
Suara.com - Kepastian pasokan gas bumi menjadi salah satu faktor penting bagi keberlanjutan produksi PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Aceh.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama perusahaan dan para pemasok gas, membahas sejumlah opsi pasokan tambahan untuk mendukung operasional serta pengembangan industri pupuk tersebut.
Tenaga Ahli Menteri ESDM, Satya Hangga Yudha Widya Putra mengatakan, kepastian pasokan, volume, dan harga gas yang kompetitif diperlukan agar produksi PIM dapat berkelanjutan.
"Kepastian pasokan, volume, dan harga gas yang kompetitif menjadi faktor penting bagi keberlanjutan produksi PIM," kata Hangga saat mengunjungi fasilitas produksi PIM di Lhokseumawe, Aceh, dilansir dari laman Antara, Sabtu (17/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, pembahasan mencakup potensi tambahan pasokan gas dari Gebang, Bontang, serta Donggi-Senoro LNG (DSLNG).
Pemerintah dan perusahaan juga membahas pengembangan lapangan gas jangka panjang, termasuk Andaman dan Masela.
Saat ini, pasokan gas PIM berasal dari Blok A yang dioperasikan Medco serta gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari BP Tangguh melalui fasilitas PT Perta Arun Gas (PAG).
Koordinasi antara Kementerian ESDM, SKK Migas, pemasok gas, dan PIM dinilai diperlukan untuk mengidentifikasi solusi pemenuhan kebutuhan energi perusahaan.
Pembahasan tersebut juga mencakup dukungan terhadap implementasi kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) sesuai ketentuan yang berlaku.
Ekspansi PIM dan pengembangan produk
Kepastian pasokan gas menjadi perhatian seiring rencana PIM meningkatkan kapasitas dan kinerja produksinya.
Direktur Operasi dan Produksi PIM Guntur Prasetyo menyampaikan perusahaan terus mendorong pengembangan lini produk NPK serta fasilitas amonia dan urea melalui proyek PIM-3.
Pengembangan tersebut diharapkan memperkuat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pupuk nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri.
PIM juga memaparkan rencana pengembangan blue ammonia dan hybrid green ammonia. Diversifikasi ini menjadi bagian dari upaya perusahaan mengembangkan produk baru dan bergerak menuju industri dengan emisi lebih rendah.
Hangga menilai keberlanjutan industri pupuk tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pupuk nasional, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi wilayah operasionalnya.
"Keberadaan industri pupuk juga mampu memberikan multiplier effect bagi perekonomian daerah, mulai dari penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha lokal, hingga peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat," ujarnya.

Menurut Hangga, pengembangan PIM diharapkan meningkatkan nilai tambah pemanfaatan gas bumi dalam negeri, mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh, serta memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.