Suara.com - Hutan yang kembali hijau dan listrik yang kini menerangi rumah-rumah menjadi awal perubahan bagi masyarakat di Desa Tumpak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Dusun Bondan, Cilacap, Jawa Tengah. Bagi warga, energi bukan sekadar penerangan, tetapi juga membuka peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan.
Di Desa Tumpak, Burhanudin bersama masyarakat berhasil menghijaukan kembali kawasan hutan lindung yang sempat gundul pada 2018. Sekitar 30 ribu pohon kini tumbuh di kawasan tersebut. Upaya pelestarian lingkungan ini sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Peternakan mulai berkembang, ekowisata menarik sekitar 800 wisatawan setiap tahun, dan produk turunan kelapa seperti cocopeat (serbuk sabut kelapa), virgin coconut oil (VCO), serta briket menjadi sumber penghasilan masyarakat. Berbagai kegiatan tersebut melibatkan 60 tenaga kerja dan menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp60 juta per tahun. Aktivitas produktif warga turut didukung panel surya berkapasitas 6,6 kWp.
“Semakin banyak pohon yang tertanam, semakin banyak sumber perekonomian baru yang tumbuh di desa ini,” kata Burhanudin dalam kegiatan DETalk “Desa Berdaya, Energi Terjaga: Cetak Biru Transisi Energi Masa Depan” yang digelar secara daring, Senin (2/11/2026).
Cerita perubahan juga dirasakan Jamaludin, local hero (penggerak masyarakat) dari Dusun Bondan, Cilacap. Hingga 2017, dusun tempat tinggalnya belum teraliri listrik. Bahkan, untuk mendapatkan air bersih, masyarakat harus menempuh perjalanan sekitar 7 kilometer menggunakan perahu.
Kini, kehadiran pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH) mengubah kehidupan masyarakat. Listrik tidak hanya menerangi rumah, tetapi juga menggerakkan aerator tambak dan teknologi desalinasi untuk mengolah air payau menjadi air bersih.
Manfaatnya meluas ke aktivitas ekonomi warga. Para ibu mendapatkan pelatihan mengolah hasil tambak, sementara koperasi desa menjaga keberlanjutan operasional PLTH melalui iuran Rp25 ribu per bulan per keluarga. Dusun Bondan bahkan menjadi laboratorium belajar bagi mahasiswa Politeknik Negeri Cilacap.
“Program ini telah kami buktikan berjalan baik dan memberi manfaat nyata dan luas bagi masyarakat Dusun Bondan,” ujar Jamaludin, penerima Local Hero Award TJSL Pertamina Group 2023.
Kisah Burhanudin dan Jamaludin memperlihatkan bagaimana pemanfaatan energi terbarukan dapat menjadi penggerak perubahan di desa. Tidak hanya menyediakan akses energi, tetapi juga membantu masyarakat mengembangkan potensi lokal dan menciptakan sumber penghidupan baru.
Upaya tersebut sejalan dengan program Desa Energi Berdikari (DEB) yang dikembangkan PT Pertamina (Persero) sejak 2018. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Pertamina mendorong pemanfaatan energi terbarukan yang terintegrasi dengan pengembangan ekonomi masyarakat sesuai potensi masing-masing desa.
VP CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto, dalam webinar DETalk menjelaskan bahwa DEB dikembangkan melalui tiga kategori, yakni Ketahanan Pangan, Pesisir Modern, dan Wisata Energi. Pengembangannya dilakukan secara bertahap, mulai dari DEB Putih, Hijau, Biru hingga Siap Mandiri.
Hingga saat ini, terdapat 310 Desa Energi Berdikari yang telah dikembangkan Pertamina dan 24 desa lainnya dalam proses pengembangan. Sebanyak 60 persen di antaranya berada di luar Pulau Jawa. Dengan perkembangan tersebut, jumlah DEB ditargetkan mencapai 334 desa pada akhir 2026 dan terus diperluas hingga 732 desa pada 2030.
“Kami berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat, berbasis sumber daya lokal,” kata Rudi.
Dampak program ini terlihat dari pemanfaatan berbagai sumber energi, mulai dari tenaga surya, biogas, mikrohidro, biodiesel hingga pembangkit hibrida. Seluruhnya menghasilkan kapasitas listrik sebesar 1,595 juta Wp dan 973 ribu meter kubik biogas.
Di sektor pangan, DEB menghasilkan lebih dari 21 ribu ton beras dan 5 ribu ton komoditas nonberas dari lahan sekitar 2.000 hektare. Sementara di sektor perikanan, DEB Pesisir Modern berkontribusi terhadap produksi 390 ton ikan tangkap per tahun.