- Menperin Muhammad Sarmuji membantah masa kegelapan industri di Sentul, Jawa Barat, Jumat (6/11/2026), karena sektor itu tetap tumbuh.
- Perubahan metode BPS dari sembilan menjadi 17 sektor pada 2010 menyebabkan penurunan statistik kontribusi PDB industri pengolahan.
- Industri pengolahan pada kuartal III 2026 mencatat pertumbuhan 5,87 persen dan peningkatan kontribusi PDB menjadi 19,22 persen.
Suara.com - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan industri dalam negeri tetap tumbuh dan berkembang. Dirinya membantah bahwa industri tengah dalam masa kegelapan.
Sarmuji menilai, persepsi publik terhadap kondisi industri tidak selalu sejalan dengan capaian faktual yang tercermin dalam data statistik. Karena itu, pemerintah perlu lebih aktif menyampaikan perkembangan dan kinerja sektor industri.
"Bagi saya, tidak ada kegelapan, saya sudah sampaikan juga. Yang ada adalah ketiadaan cahaya," ujar Sarmuji di Sentul, Jawa Barat, Jumat (6/11/2026).

Ia mengibaratkan narasi Indonesia gelap muncul karena pihak yang bertugas menerangi belum menjalankan perannya secara maksimal. Akibatnya, berbagai capaian positif yang sebenarnya terjadi tidak terlihat oleh masyarakat.
"Karena yang bertugas untuk menghadirkan cahaya atau cahayanya kurang terang, jadi kelihatan Indonesia kemarin-kemarin seperti sebuah daerah yang gelap," katanya.
Sarmuji juga menyinggung narasi deindustrialisasi yang selama ini berkembang. Menurutnya, persepsi penurunan kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) perlu dilihat dengan mempertimbangkan perubahan metode pencatatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2010.
Ia menjelaskan, BPS sebelumnya menggunakan klasifikasi sembilan sektor sebelum mengubahnya menjadi 17 sektor. Perubahan tersebut membuat sejumlah subsektor yang sebelumnya masuk dalam sektor industri pengolahan kemudian dicatat sebagai sektor tersendiri.
Kondisi itu, menurut Sarmuji, membuat kontribusi industri pengolahan terlihat mengalami penurunan cukup tajam dalam statistik.
"Bahwa ada kontribusi yang belum maksimal di data statistik, misalkan hari ini kemarin 19,07 persen lalu sekarang 19,22 persen, itu dianggap kontribusinya tidak maksimal. Padahal sebenarnya ada fakta yang selama ini tidak dihadirkan, tidak diungkap," tuturnya.
Ia bahkan memperkirakan kontribusi industri terhadap PDB bisa mencapai sekitar 23,22 persen apabila selisih sekitar 4 persen akibat perubahan metode pencatatan tersebut diperhitungkan.
Sarmuji mengatakan, pemerintah tidak ingin hanya mengandalkan persepsi positif tanpa didukung capaian nyata. Menurutnya, Kementerian Perindustrian tetap berupaya meningkatkan kinerja sektor industri sekaligus memperbaiki komunikasi kepada masyarakat.
Ia mencontohkan, industri pengolahan pada kuartal III 2026 mampu tumbuh 5,87 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,47 persen.
Selain itu, kontribusi industri pengolahan terhadap PDB meningkat dari 19,07 persen menjadi 19,22 persen.
"Alhamdulillah, pertumbuhan ekonomi di kurtal ketiga, kita 5,87 persen. Lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Sektor industri tumbuh 5,87 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional dan jaraknya mulai agak menjauh, kita lebih tinggi," pungkasnya.