FIFPro: Tidak Semua Pesepakbola Layak Rasakan Pemotongan Gaji

Rully Fauzi
FIFPro: Tidak Semua Pesepakbola Layak Rasakan Pemotongan Gaji
Penyerang Atletico Madrid, Joao Felix, yang kini menjadi salah satu pemain yang merasakan kebijakan pemotongan gaji oleh klub. [JOSE JORDAN / AFP]

Fenomena pemotongan gaji pemain kini terjadi dalam dunia sepakbola di tengah pandemi Virus Corona.

Suara.com - Serikat pesepak bola dunia, FIFPro, mengingatkan kembali bahwa banyak pesepakbola profesional di dunia yang tak bisa memenuhi kebutuhan hidup jika gajinya dipotong karena krisis ekonomi, imbas dari pandemi Virus Corona saat ini.

Fenomena pemotongan gaji pemain kini memang marak terjadi dalam dunia sepakbola di tengah off-nya kompetisi, dampak dari pandemi COVID-19.

Ya, termasuk di Indonesia di mana para pemain Liga 1 2020 kini harus merasakan pemotongan gaji hingga mencapai 75 persen.

Sementara itu, Liga Inggris baru saja mengumumkan kesepakatan seluruh klub soal rencana pemotongan gaji hingga 30 persen.

Demikian pula di Liga Spanyol dan Liga Italia, klub-klub tenar macam Barcelona, Atletico Madrid, Juventus, hingga Inter Milan sudah menerapkan kebijakan pemotongan gaji pada para penggawanya.

Melihat fenomena ini, Sekretaris Jenderal FIFPro, Johan Baer-Hoffmann menegaskan pemotongan gaji ini tidak bisa dipukul rata ke belahan dunia lainnya.

"Sebagian besar pemain bola sama seperti pekerja pada umumnya, tak memungkinkan gaji mereka dipotong. Saya cuma mengingatkan itu," kata Baer-Hoffmann seperti dimuat Tribal Football.

"Di Spanyol atau Italia misalnya, banyak juga klub-klub divisi atas tak menggaji pemainnya dengan nilai yang besar," sambungnya.

"Pendapatan mereka tidak seperti yang diperkirakan oleh banyak orang. Mereka dibayar jauh lebih kecil, mungkin di kisaran rata-rata pendapatan nasional," celoteh Baer-Hoffmann.

"Jika bicara dunia sepakbola secara kesluruhan, gaji minim terjadi di seluruh belahan dunia. Bagi para pemain ini, pemotongan gaji bisa berdampak besar untuk hidup mereka. Untuk pengeluaran ongkos sewa tempat tinggal ataupun belanja harian," paparnya.

"Di Italia misalnya, keuangan Juventus berbeda jauh dibandingkan tim-tim penghuni zona degradasi (klasemen) Serie A saat ini," tukas Baer-Hoffmann.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS