Reporter Denmark Ditahan Polisi Qatar karena Liput Demo Anti Iran saat Piala Dunia 2022, Sempat Rusuh

Pebriansyah Ariefana
Reporter Denmark Ditahan Polisi Qatar karena Liput Demo Anti Iran saat Piala Dunia 2022, Sempat Rusuh
Komite tertinggi Qatar minta maaf ancam rusak kamera jurnalis Denmark saat liputan Piala Dunia 2022. (Kolase/Twitter/AFP)

Demo terjadi dengan ricuh. Saat itu digambarkan massa pendukung pemerintah menyerang pendemo anti pemerintah.

Suara.com - Reporter Denmark ditahan polisi Qatar karena liput demo anti Iran di sela-sela Piala Dunia Qatar di Doha. Mereka ditangkap dan ditahan.

Demo terjadi dengan ricuh. Saat itu digambarkan massa pendukung pemerintah menyerang pendemo anti pemerintah.

Jurnalis yang ditangkap disebutkan bernama Rasmus Tantholdt, dari jaringan TV2 Denmark.

Dia merekam para penggemar Iran yang bentrok atas protes hak-hak perempuan yang sedang berlangsung setelah pertandingan Iran v AS pada hari Selasa, 29 November kemarin,

Baca Juga: Catat Nih! Polres Purwakarta Gelar Operasi Keselamatan Lodaya 2023, Ini Sasarannya

“[Saya] ditahan oleh polisi Qatar karena merekam orang-orang Iran yang [diserang] oleh orang-orang Iran yang pro-pemerintah,” begitu tweet wartawan itu, dikutip dari Independent.

Ini kedua kali kekerasan terhadap jurnalis Denmark terjadi. Dan juga terjadi pada jurnalis TV2 Denmark.

Saat itu sang reporter, Rasmus Tantholdt sedang mengudara langsung untuk penyiar TV2. Tiba-tiba mobil golf yang membawa staf keamanan muncul di belakangnya.

Salah satu dari mereka melambai ke kamera sementara yang lain memegangnya dan menutupi lensa.

"Tuan, Anda mengundang (jurnalis dari) seluruh dunia untuk datang ke sini, mengapa kami tidak dapat membuat liputan? Ini tempat umum," kata Rasmus Tantholdt, dikutip dari Daily Mail.

Baca Juga: Respon Nikita Mirzani Setelah Dipolisikan oleh Tengku Zanzabella, Singgung soal Sampah!

Rasmus Tantholdt pun menunjukan kartu pers.

"Kami dapat liputan di mana pun kami mau."

Hanya saja petugas tetap tidak mengizinkan.

"Kamu bisa merusak kameranya. Kamu ingin merusaknya? Oke, kamu merusak kameranya. Jadi kamu mengancam kami dengan menghancurkan kameranya?"

Tantholdt mengungkapkan bahwa mereka telah menerima permintaan maaf dari kantor media internasional Qatar dan Komite Tertinggi mereka.

"Itu cukup bagus, tetapi masih memberi tahu di negara mana kita berada," kata Rasmus Tantholdt.

"Ini bukan negara yang bebas dan demokratis. Pengalaman saya setelah mengunjungi 110 negara di dunia, semakin Anda harus bersembunyi, semakin sulit untuk melapor dari sana," tutup Rasmus Tantholdt.