Selain Aksi Tutup Mulut Tim Jerman, Berikut Deretan Aksi Protes Paling Kontroversial di Piala Dunia

Reky Kalumata

Senin, 12 Desember 2022 | 23:14 WIB
Selain Aksi Tutup Mulut Tim Jerman, Berikut Deretan Aksi Protes Paling Kontroversial di Piala Dunia
Starting eleven Timnas Jerman di laga Piala Dunia 2022 melawan Jepang di Qatar, Rabu (24/11/2022). [INA FASSBENDER / AFP]

Suara.com - Melihat kembali deretan protes paling kontroversial di Piala Dunia, menyusul aksi tutup mulut yang ditunjukkan Timnas Jerman di edisi 2022 ini.

Piala Dunia 2022 saat ini telah memasuki babak-babak akhir dan menyisakan empat pertandingan saja, yakni dua laga semifinal, satu laga perebutan tempat ketiga, dan satu laga final.

Meski akan berakhir dalam waktu dekat, edisi kali ini diyakini takkan terlupakan begitu saja, menyusul banyak diwarnai aksi-aksi unik yang melibatkan negara peserta.

Aksi unik negara peserta di Piala Dunia 2022 ini terlihat dari aksi tutup mulut Timnas Jerman yang ditunjukkan saat melakoni laga perdananya melawan Jepang (23/11).

Sebelum duel perdana grup E Piala Dunia 2022 itu, 11 pemain Jerman yang bertanding melakukan aksi tutup mulut saat sesi foto sebelum bertanding.

Aksi tutup mulut ini karena adanya larangan FIFA bagi setiap negara yang ingin mengenakan ban kapten pelangi atau ‘One Love’ untuk mendukung LGBTQ+.

Aksi tutup mulut Jerman ini kemudian menjadi perbincangan. Sebab, aksi seperti ini bukanlah kali pertama yang terjadi di Piala Dunia.

Sepanjang sejarah Piala Dunia, banyak aksi protes yang dilakukan negara maupun orang ataupun konfederasi untuk mengkritisi aturan-aturan yang berlaku.

Lantas, apa saja deretan aksi protes yang pernah dilakukan sepanjang perhelatan Piala Dunia? Berikut daftarnya.

baca juga

1. Aksi Protes Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF)

Aksi protes pernah hadir pada babak Kualifikasi Piala Dunia 1966 yang melibatkan Konfederasi Sepak Bola Afrika atau CAF.

Aksi protes ini dilakukan dengan cara memboikot seluruh pertandingan babak kualifikasi yang bergulir pada tahun 1994.

Usut punya usut, protes ini dilancarkan karena CAF tak terima dengan perlakuan FIFA yang membuat aturan tiga pemenang putaran kedua di zona Afrika harus melakoni babak Playoff kontra wakil Asia.

2. Aksi Protes Portugal dengan Cara Mengalah

Pada Piala Dunia 1986, Timnas Portugal pernah melakukan aksi protes dengan cara mengalah agar cepat tersingkir dari ajang empat tahunan itu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Garang Bareng Maroko di Piala Dunia 2022, Sofyan Amrabat Didukung sang Kakak Gabung PSG

Garang Bareng Maroko di Piala Dunia 2022, Sofyan Amrabat Didukung sang Kakak Gabung PSG

Bola | Senin, 12 Desember 2022 | 22:43 WIB

Portugal Kandas di Delapan Besar Piala Dunia 2022, Luis Figo Kecam Fernando Santos Cadangkan Cristiano Ronaldo

Portugal Kandas di Delapan Besar Piala Dunia 2022, Luis Figo Kecam Fernando Santos Cadangkan Cristiano Ronaldo

Bola | Senin, 12 Desember 2022 | 22:08 WIB

Negara Afrika yang Paling Sering Kalahkan Wakil Eropa di Piala Dunia

Negara Afrika yang Paling Sering Kalahkan Wakil Eropa di Piala Dunia

Bola | Senin, 12 Desember 2022 | 21:00 WIB

Terkini

Agen OpenAI Retas Situs Pemerintah, Bobol Data Kesehatan Publik Australia

Agen OpenAI Retas Situs Pemerintah, Bobol Data Kesehatan Publik Australia

News | Kamis, 24 September 2026 | 08:12 WIB

5 Cara Menghilangkan Noda Kunyit di Blender, Kembali Bersih dan Anti Bau

5 Cara Menghilangkan Noda Kunyit di Blender, Kembali Bersih dan Anti Bau

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 08:10 WIB

6.622 Warga Pekanbaru Alami Gangguan Kesehatan Akibat Kabut Asap Karhutla

6.622 Warga Pekanbaru Alami Gangguan Kesehatan Akibat Kabut Asap Karhutla

Riau | Kamis, 24 September 2026 | 08:04 WIB

Iran Tolak Buka Selat Hormuz Jika Perang Berlanjut: Ogah Tunduk ke Amerika Serikat

Iran Tolak Buka Selat Hormuz Jika Perang Berlanjut: Ogah Tunduk ke Amerika Serikat

News | Kamis, 24 September 2026 | 08:03 WIB

40 Ribu Balita Terserang ISPA Akibat Karhutla! Pemerintah Didesak Beri Perlindungan Ekstra

40 Ribu Balita Terserang ISPA Akibat Karhutla! Pemerintah Didesak Beri Perlindungan Ekstra

News | Kamis, 24 September 2026 | 08:03 WIB

Menyesap Dieng Dari Hulu ke Hilir: Jejak GI Tourism yang Dirintis DJKI

Menyesap Dieng Dari Hulu ke Hilir: Jejak GI Tourism yang Dirintis DJKI

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 08:00 WIB

BSI Dorong Produk Halal Lokal Naik Kelas hingga Pasar Global lewat International Expo 2026

BSI Dorong Produk Halal Lokal Naik Kelas hingga Pasar Global lewat International Expo 2026

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 07:58 WIB

Tak Terima Hasil Sabung Ayam, Pria di Mesuji Tembak Lawan dari Jarak 2 Meter

Tak Terima Hasil Sabung Ayam, Pria di Mesuji Tembak Lawan dari Jarak 2 Meter

Lampung | Kamis, 24 September 2026 | 07:53 WIB

Di Balik Kemewahan AI Indonesia: Ada Bumi yang Kian Gerah

Di Balik Kemewahan AI Indonesia: Ada Bumi yang Kian Gerah

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 07:50 WIB

Sri Lanka Jadi Calon Markas Baru Sindikat Penipuan Siber Internasional di Asia Pasifik

Sri Lanka Jadi Calon Markas Baru Sindikat Penipuan Siber Internasional di Asia Pasifik

News | Kamis, 24 September 2026 | 07:45 WIB

×