- PSSI secara resmi memperkenalkan John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia baru pada 13 Januari 2026 dengan kontrak dua tahun.
- Herdman, yang tidak memiliki karier pemain profesional, sukses membawa Kanada lolos Piala Dunia 2022 setelah absen panjang.
- Filosofi kepelatihan Herdman sangat dipengaruhi latar belakang akademisnya, memandang peran sebagai pengajar bagi perkembangan pemain.
Suara.com - Babak baru perjalanan Timnas Indonesia era pelatih baru bersama John Herdman resmi dimulai.
PSSI telah memperkenalkan John Herdman sebagai nakhoda anyar Timnas Indonesia pada 13 Januari 2026.
Juru taktik berdarah Inggris ini diikat dengan kontrak berdurasi dua tahun, disertai opsi perpanjangan dua tahun berikutnya, sebuah mandat strategis untuk mendongkrak prestasi sepak bola nasional.
Sosok Herdman membawa warna berbeda dalam kancah kepelatihan elite. Lahir di Consett, County Durham, pada 19 Juli 1975, ia bukanlah tipikal pelatih yang lahir dari gemerlap karier pemain bintang.
Faktanya Herdman tidak pernah mencicipi karier sepak bola profesional. Namun, keterbatasan itu justru menjadi pemicu kesuksesan luar biasa, termasuk keberhasilannya membawa Timnas Kanada putra kembali ke panggung Piala Dunia 2022 setelah absen sejak 1986.
Perjalanan karier Herdman sangat unik karena dimulai dari dunia akademis. Saat masih berstatus mahasiswa, ia bekerja sebagai dosen paruh waktu di Universitas Northumbria sembari mengasah kemampuan melatih di akademi Sunderland.
Baginya melatih adalah jalan lain untuk tetap hidup dalam sepak bola ketika pintu menjadi pemain profesional tertutup.
Dalam wawancara eksklusif di kanal YouTube Timnas Indonesia, Herdman mengungkapkan bahwa profesi ini adalah panggilan jiwanya.
"Saya pikir seperti kebanyakan pelatih yang tidak bermain di level tertinggi, mereka akhirnya menjadi pelatih. Anda tahu, Anda sebagai seorang pemain sepak bola, itu adalah impian," ujar Herdman membuka cerita.
Baca Juga: Inspirasi Hidup, John Herdman Ungkap Kakeknya Adalah Eks Tentara dan Petinju Profesional
Ia menyadari realitas yang ada, namun hasratnya terhadap si kulit bundar tak pernah surut. Justru, ia menemukan kepuasan lain dalam membangun manusia dan tim.
"Tapi ketika Anda tidak cukup baik untuk bermain di level itu, di sisi lain Anda ingin melanjutkan kecintaan Anda pada olahraga tersebut. Saya beruntung karena saya menikmati berinteraksi dengan orang-orang," tambahnya.
Reputasi Herdman mulai mendunia saat ia hijrah ke Selandia Baru pada 2001. Di sana, ia sukses mengantar tim nasional wanita menembus Piala Dunia Wanita FIFA (2007, 2011) dan Olimpiade Beijing 2008.
Prestasi ini membuatnya direkrut Kanada pada 2011. Tangan dinginnya menghasilkan dua medali perunggu Olimpiade (2012, 2016) dan emas Pan American Games 2011 untuk tim putri Kanada.
Kejeniusannya semakin teruji saat melakukan transisi mengejutkan ke tim putra Kanada, yang berujung pada tiket bersejarah ke Qatar 2022.
Deretan prestasi ini diganjar berbagai penghargaan, mulai dari Coach of the Year di Selandia Baru, dua kali penghargaan Team of the Year dari The Canadian Press, hingga Sport Canada Coaching Excellence Award.