- Emil Audero, kiper Indonesia, tetap menyelesaikan laga Cremonese melawan Inter meski terkena lemparan petasan suporter.
- Audero mengalami luka bakar di kaki kanan akibat ledakan, namun adrenalin membantunya fokus menyelesaikan pertandingan.
- Keputusan tidak menghentikan laga diambil karena ia tidak ingin insiden oknum mengakhiri tugasnya di lapangan.
Suara.com - Mental baja yang ditunjukkan Emil Audero saat menjadi korban pelemparan petasan oleh suporter Inter Milan menuai banyak pujian.
Di tengah insiden mengerikan itu, kiper Timnas Indonesia ini memilih untuk tetap berdiri tegak dan menyelesaikan pertandingan hingga usai, sebuah keputusan yang ternyata didasari oleh prinsip kuat yang ia pegang.
Padahal Audero sebenarnya memiliki hak untuk tidak melanjutkan laga. Insiden tersebut bahkan bisa menjadi keuntungan bagi timnya, Cremonese karena Inter Milan sebagai tim tamu bisa dianggap mencederai pemain lawan.
Namun, alih-alih mengambil jalan itu, ia memilih untuk terus bermain hingga wasit meniupkan peluit akhir pertandingan.
Dalam sebuah wawancara, Audero menceritakan kembali momen-momen mencekam tersebut.
Ia mengaku baru benar-benar merasakan dampak fisiknya setelah pertandingan selesai.
"Saya baik-baik saja, setidaknya secara mental karena jika terus mengingat kejadian tersebut akan ada konsekuensi yang jauh lebih serius," kata Emil Audero dikutip dari Calcio News.
Ia mengaku sudah terbiasa dengan tekanan suporter, bahkan sejak pemanasan sudah ada flare yang dilempar.
"Sudah pemanasan (ada flare), tapi momen itu tidak saya perhatikan karena hanya ada flare yang tidak meledak, semua tetap terkendali," katanya.
Baca Juga: Nasib Orang Dzalim ke Emil Audero Sungguh Tragis
"Selama pertandingan saya fokus, sampai akhirnya ketika saya menoleh ada petasan yang berada di dekat saya. Saya masih berusaha memanggil wasit sampai akhirnya ada ledakan," ceritanya.
Ledakan itu bahkan merobek celananya dan meninggalkan luka bakar di kaki kanannya.
Lantas, apa yang membuatnya tetap melanjutkan pertandingan meski dalam kondisi terluka dan terguncang?
"Adrenalin adalah hal yang utama, tapi saya melakukannya karena saya memahami situasinya, saya tentu tak mau berakhir seperti itu," ujar pemain kelahiran Mataram ini.
Baginya menangguhkan pertandingan karena ulah satu oknum bukanlah sebuah pilihan. Ia percaya bisa menyelesaikan tugasnya di lapangan, apapun risiko yang mungkin terjadi setelahnya.
"Saya tidak terpikir akan menghentikannya, menangguhkan laga karena insiden itu bukanlah sesuatu yang akan saya lakukan, saya tahu bisa menyelesaikannya, bahkan jika sesuatu terjadi setelahnya," tegasnya.
Meski begitu, ia tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Rasa kecewa itu, menurutnya, jauh lebih besar daripada rasa sakit fisik yang ia alami.
"Saya berada di lapangan, melakukan pekerjaan yang saya cintai, tapi sementara itu, pikiran saya ada di momen ledakan itu, bagaimana jika (dampak) akan lebih buruk dari ini," ujar Audero.
"Penggemar adalah bagian fundamental dari sepak bola, dukungan sangat penting. Terlepas apa yang terjaadi, saya masih percaya dengan sisi baiknya walaupun insiden seperti itu terlalu sering terjadi akhir-akhir ini," pungkasnya.