-
Persija Jakarta kalah memalukan 0-2 dari Arema FC di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
-
Diky Soemarno mengkritik strategi pelatih yang jarang memainkan pemain baru seperti Shayne Pattynama.
-
Peluang juara Persija terancam sirna karena sudah menelan lima kali kekalahan musim ini.
Suara.com - Kekalahan mengejutkan Persija Jakarta saat menjamu Arema FC memicu reaksi keras dari pendukung setianya.
Ketua Umum The Jakmania, Diky Soemarno, mengaku sangat terpukul melihat hasil negatif di kandang sendiri.
Stadion Utama Gelora Bung Karno yang penuh sesak ternyata tidak menjamin kemenangan bagi Macan Kemayoran.
Laga pekan lalu tersebut berakhir dengan skor 0-2 untuk keunggulan tim tamu dari Malang.
Diky menilai ada sesuatu yang janggal dalam performa tim asuhan Mauricio Souza di lapangan hijau.
Analisis Kekalahan di Kandang
Suasana riuh dari puluhan ribu penonton di Senayan seolah tidak memberikan energi tambahan bagi pemain.
Rizky Ridho dan kolega justru tampil tidak maksimal saat sangat membutuhkan poin untuk papan atas.
"Menurut saya, pertandingan kemarin cukup aneh. Kami bermain di kandang sendiri dengan stadion penuh, sekitar 56 ribu penonton. Dalam situasi seperti itu, seharusnya tidak ada hasil lain selain kemenangan," kata Diky kepada awak media.
Baca Juga: Persija Tanpa Mauricio Souza di Kandang Bali United, Sanksinya Bikin Kaget!
Padahal, dukungan masif dari tribun seharusnya menjadi modal utama untuk mengamankan poin penuh di Jakarta.
Kegagalan memanfaatkan status tuan rumah ini menjadi sorotan tajam bagi seluruh elemen tim Persija.
Minimnya Kontribusi Gol Pemain
Persija sebenarnya memiliki beberapa kesempatan emas untuk mengubah kedudukan namun selalu gagal di penyelesaian akhir.
Kurangnya ketenangan di depan gawang lawan membuat lini serang Macan Kemayoran terlihat sangat tumpul hari itu.
"Itu sudah menjadi hal yang sangat baik apabila bisa menang. Namun kenyataannya kami kalah. Kami tidak mampu mencetak gol dan banyak membuang peluang," jelasnya.
Situasi ini sangat kontras dengan ambisi manajemen yang sudah mendatangkan banyak amunisi anyar berkualitas tinggi.
Kekecewaan kian mendalam karena tim seolah kehilangan taji justru saat bermain di depan pendukung sendiri.
Sorotan Terhadap Pemain Baru
Manajemen Persija sebenarnya sudah bergerak aktif di bursa transfer dengan memboyong nama-nama besar ke Jakarta.
Sosok seperti Mauro Zijlstra dan Fajar Fathurrahman diharapkan mampu memberikan dampak instan bagi kekuatan tim.
Namun sayangnya, peran para pemain tersebut belum terlihat menonjol dalam skema permainan pelatih Mauricio Souza.
"Sejujurnya, teman-teman Jakmania berharap bisa melihat pemain-pemain baru Persija tampil lebih banyak. Misalnya Shane Pattynama yang belum dimainkan secara konsisten. Kalau tidak salah, baru bermain saat melawan Persita," jelasnya.
Jakmania masih menunggu kapan para pemain bintang tersebut bisa menunjukkan kualitas aslinya secara penuh di lapangan.
Nasib Transfer Pemain Asing
Selain nama lokal dan naturalisasi, sektor pemain asing juga tidak luput dari pengamatan kritis para suporter.
"Begitu juga dengan Paulo Ricardo, kami belum benar-benar melihat performanya secara utuh. Jadi bagaimana kita bisa menilai apakah transfer ini berhasil atau tidak jika mereka belum teruji secara maksimal?" ia menambahkan.
Hingga saat ini, kontribusi nyata dari rekrutan baru masih menjadi tanda tanya besar bagi publik Jakarta.
Pelatih diharapkan lebih berani dalam meramu komposisi tim agar investasi pemain tidak terbuang sia-sia.
Tanpa adanya pembuktian di lapangan, efektivitas belanja pemain Persija musim ini akan terus dipertanyakan fans.
Jalan Terjal Menuju Juara
Kekalahan ini membuat jarak poin dengan Persib Bandung yang memuncaki klasemen menjadi semakin lebar dan jauh.
Peluang untuk meraih trofi Super League musim ini memang belum tertutup rapat namun kondisinya sangat sulit.
"Jika targetnya masih juara, maka hasil-hasil seperti ini (kalah) harus dihentikan. Kalau tidak salah, Persija sudah lima kali kalah musim ini," terangnya.
Konsistensi menjadi masalah utama yang harus segera dibenahi jika ingin tetap bersaing di jalur juara.
Tim kebanggaan warga Jakarta ini tidak boleh lagi kehilangan poin di laga-laga krusial di masa depan.
Batas Toleransi Kekalahan Tim
Diky juga menekankan bahwa secara hitung-hitungan matematis, jumlah kekalahan Persija sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan.
"Secara teori, jika kekalahan sudah lebih dari lima kali, akan sulit mengejar gelar juara, kecuali terjadi hal-hal luar biasa lainnya."
Oleh karena itu, setiap pertandingan sisa harus dianggap sebagai laga final yang wajib dimenangkan tanpa terkecuali.
Mentalitas pemain harus segera bangkit agar tidak terpuruk lebih dalam di sisa kompetisi musim 2025/2026 ini.
Diky berharap Persija bisa mengembalikan keangkeran stadion kandang mereka bagi setiap lawan yang datang berkunjung.
Evaluasi Taktik Strategi Pelatih
"Memang ini baru satu kekalahan terakhir, tetapi situasinya sulit diterima karena terjadi di kandang sendiri. Seharusnya kandang menjadi tempat yang paling menakutkan bagi lawan."
Arema FC berhasil mencuri gol melalui skema serangan balik cepat yang gagal diantisipasi oleh lini pertahanan.
Kesalahan dalam mengantisipasi transisi lawan menjadi lubang besar yang berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh musuh mereka.
"Namun kenyataannya kami kalah melalui dua serangan balik dari Arema. Seharusnya pelatih bisa mengetahui di mana letak kelemahan tersebut," pungkasnya.
Kini beban berat ada di pundak Mauricio Souza untuk segera memperbaiki kinerja tim sebelum laga berikutnya.