-
Sumardji dihukum FIFA 20 pertandingan dan denda Rp324 juta akibat insiden wasit China.
-
Meski dilarang masuk ruang ganti, Sumardji tetap mendampingi Timnas di hotel dan stadion.
-
Aksi penyerangan wasit dilakukan Sumardji karena ingin melindungi para pemain Timnas Indonesia.
Suara.com - Kabar mengejutkan datang dari internal manajemen Timnas Indonesia terkait sanksi disiplin yang dijatuhkan federasi sepak bola dunia.
Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, dipastikan tetap memberikan dukungan penuh meski ruang geraknya dibatasi secara resmi.
Komitmen ini muncul setelah FIFA merilis keputusan berat yang melarangnya terlibat langsung dalam pertandingan internasional mendatang.
Sumardji menegaskan bahwa hukuman tersebut sama sekali tidak memadamkan semangatnya untuk mengabdi pada negara.
Sanksi disiplin ini merupakan buntut dari kericuhan yang melibatkan wasit asal China, Ma Ning, beberapa waktu lalu.
Insiden tersebut pecah tepat setelah peluit panjang dibunyikan pada laga sengit antara Indonesia melawan China.
Pertandingan yang digelar di Stadion King Abdullah, Jeddah, pada 11 Oktober 2025 itu berakhir dengan skor 0-1.
Dalam atmosfer yang memanas tersebut, Sumardji dinilai melakukan tindakan fisik yang tidak dapat ditoleransi oleh pengadil lapangan.
Laporan resmi Komite Disiplin FIFA menyebutkan adanya kontak fisik yang menyebabkan Ma Ning terjatuh di lapangan hijau.
Baca Juga: Luke Vickery Akui Sudah Dihubungi John Herdman, Peluang Bela Timnas Indonesia Terbuka
Akibat aksi tersebut, Sumardji langsung diganjar kartu merah oleh wasit saat masih menjalankan tugas sebagai manajer tim.
FIFA secara tegas menyatakan adanya pelanggaran terhadap Pasal 14 Kode Disiplin terkait penyerangan perangkat pertandingan.
Konsekuensi yang harus diterima tidak main-main, yakni larangan mendampingi tim dalam 20 laga resmi FIFA.
Selain sanksi administratif, pria yang juga petinggi kepolisian ini dijatuhi denda sebesar 15.000 Swiss Franc.
Nominal denda yang setara dengan Rp324 juta tersebut wajib dilunasi dalam kurun waktu satu bulan ke depan.
Merespons keputusan tersebut, Sumardji mengaku cukup terpukul dengan durasi hukuman yang dianggap sangat panjang.
"Jujur saya kaget kenapa sanksinya besar sekali sampai 20 pertandingan resmi FIFA. Itu cukup memberatkan. Saya tidak membantah, saya akui itu salah," kata Sumardji.
Ia mengungkapkan bahwa tindakannya di lapangan dipicu oleh rasa khawatir terhadap keselamatan para pemain Timnas.
Menurutnya, tensi pertandingan saat itu sangat tinggi dan ia merasa perlu melakukan intervensi fisik secara spontan.
Sumardji merasa wasit terlalu mudah memberikan kartu kepada pemain Indonesia sehingga ia mencoba memberikan perlindungan.
Ia mengibaratkan perannya di dalam tim nasional bukan sekadar manajer, melainkan sosok pelindung bagi talenta muda.
"Saya hanya ingin pemain ini dilindungi. Saya melihat wasit seperti mencari celah untuk memberi kartu merah, sehingga saat itu saya halangi dengan tangan. Itu berisiko membawa tim. Saya mengibaratkan diri sebagai orang tua yang harus mengamankan dan melindungi anak-anaknya," jelasnya.
Meskipun aksesnya ke area teknis ditutup rapat, ia telah menyiapkan strategi agar kehadirannya tetap terasa oleh tim.
Sumardji tetap memiliki hak untuk tinggal di hotel yang sama dengan para pemain selama masa pemusatan latihan.
Ia juga masih diperbolehkan berangkat menuju stadion menggunakan bus tim selama tidak memasuki zona terlarang.
Fokus Tatap Agenda FIFA Series 2026
Aturan FIFA hanya melarangnya berada di bangku cadangan (bench) dan masuk ke dalam ruang ganti pemain.
Hukuman berat ini akan mulai diberlakukan secara efektif pada kalender FIFA Series yang jatuh pada Maret 2026.
Meskipun terkena restriksi, Sumardji tetap akan memastikan segala kebutuhan logistik dan akomodasi tim terpenuhi dengan baik.
Bagi dirinya, kepentingan kolektif Skuad Garuda di kualifikasi jauh lebih penting daripada status pribadinya di lapangan.
Dedikasinya tetap utuh untuk memastikan Indonesia mampu bersaing di panggung tertinggi sepak bola internasional tahun depan.
Sumardji berjanji akan mencari celah legal agar tetap bisa memotivasi para pemain di luar jam pertandingan.
Keberadaannya di sekitar skuad diharapkan mampu menjaga mentalitas bertarung para pemain agar tidak kendor.
Ia menyadari kesalahannya namun memilih untuk bangkit dan tetap bekerja di balik layar demi merah putih.
"Yang penting saya masih bisa memberikan dukungan dan kontribusi untuk Timnas Senior. Saya memang tidak boleh di bench, tapi tetap bisa mendampingi di hotel dan berangkat ke stadion, selama tidak masuk ruang ganti,” pungkasnya.
Hingga saat ini, PSSI terus melakukan koordinasi agar sanksi ini tidak mengganggu persiapan teknis timnas ke depan.