- Pelatih Bulgaria, Aleksandar Dimitrov, memiliki riwayat melatih di Indonesia bersama Persipura dan Timnas Indonesia.
- Dimitrov menyoroti investasi besar Indonesia untuk lolos Piala Dunia serta rencana menjadi tuan rumah selanjutnya.
- Bulgaria akan berlaga di FIFA Series 2026 di Jakarta melawan Kepulauan Solomon dan potensi lawan Indonesia.
Suara.com - Jelang perhelatan FIFA Series 2026 di Jakarta, perhatian menarik datang dari calon lawan potensial Timnas Indonesia, Bulgaria.
Sang pelatih kepala, Aleksandar Dimitrov ternyata bukanlah sosok yang sepenuhnya asing bagi panggung sepak bola tanah air dan ia secara terbuka menyoroti ambisi besar yang tengah dibangun oleh Skuad Garuda.
Dimitrov memiliki ikatan sejarah dengan Indonesia. Ia pernah berseragam Persipura Jayapura sebagai pemain pada 2003 dan kemudian kembali sebagai asisten pelatih Ivan Kolev di klub yang sama hingga 2007.
Pengalamannya berlanjut saat ia turut mendampingi Kolev di kursi kepelatihan Timnas Indonesia pada 2007.
Kenangan inilah yang membuatnya terus mengikuti perkembangan sepak bola di sini.
Menurut Dimitrov, ia melihat adanya investasi besar dan keseriusan dari Indonesia untuk bisa bersaing di level dunia.
"Mereka banyak berinvestasi dalam sepak bola dengan tujuan lolos ke Piala Dunia 2030," kata Dimitrov dikutip dari Top Sport.
"Mereka (saya dengar) ingin menyelenggarakan Piala Dunia 2034 atau 2038. Mereka (pernah) dilatih Patrick Kluivert dan ahli metodologi dari Belanda," tambahnya.
Komentar ini datang menjelang partisipasi timnya dalam FIFA Series 2026 yang akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 27-31 Maret.
Baca Juga: Gelandang Timnas Indonesia U-17 Ini Susul Calvin Verdonk dan Dean James
Tim peringkat ke-88 dunia itu dijadwalkan akan menghadapi Kepulauan Solomon terlebih dahulu.
Jika berhasil menang, Bulgaria berpotensi besar akan menantang pemenang dari laga antara Timnas Indonesia dan Saint Kitts and Nevis di partai final.
Lebih dari sekadar analisis teknis, Dimitrov juga mengenang kembali betapa luar biasanya atmosfer dan gairah sepak bola di Indonesia. Baginya, antusiasme para suporter adalah sesuatu yang tak terlupakan.
"Saya menghabiskan tiga tahun yang luar biasa di Indonesia. Sepak bola sudah seperti agama di sana. Saat berlatih saja ada 5.000 orang yang datang (nonton)," tukasnya.