-
Mauricio Souza tegaskan pemilihan pemain Persija berdasarkan kualitas performa bukan sekadar nama besar.
-
Pemain baru seperti Jean Mota dan Cyrus Margono masih menunggu waktu debut yang tepat.
-
Pelatih Persija meminta publik menghormati kontribusi pemain lama yang sudah berjuang sejak awal.
Suara.com - Juru taktik Persija Jakarta akhirnya menanggapi gelombang kritik terkait minimnya menit bermain bagi para penggawa anyar.
Mauricio Souza menegaskan bahwa segala keputusan teknis di lapangan hijau merupakan otoritas mutlak dirinya sebagai pelatih.
Publik menyoroti kebijakan tersebut mengingat Macan Kemayoran sangat agresif pada bursa transfer paruh musim 2025/2026.
Deretan nama mentereng seperti Shayne Pattynama hingga Cyrus Margono terpantau masih minim mendapatkan kesempatan beraksi.
Bahkan sosok potensial seperti Mauro Zijlstra dan Fajar Fathurrahman belum menjadi pilihan utama dalam skema strategi tim.
Tiga legiun asing baru yakni Alaaeddine Ajaraie, Paulo Ricardo, serta Jean Mota juga mengalami situasi serupa.
Khusus untuk Jean Mota dan penjaga gawang Cyrus Margono, keduanya tercatat belum mencicipi atmosfer pertandingan sama sekali.
Souza berdalih bahwa komposisi skuad Persija saat ini memiliki kualitas yang sangat kompetitif dan merata.
Ia tidak ingin terburu-buru memasukkan pemain baru hanya karena tekanan dari pihak luar atau status kebintangan.
Pelatih asal Brasil tersebut menyatakan bahwa kualitas pemain lama tidak boleh dipandang sebelah mata begitu saja.
"Jean adalah pemain hebat. Dia bermain di berbagai tim ternama. Kami tidak ragu dengan kualitas yang dia miliki," kata Souza kepada awak media.
Souza menjamin bahwa standarisasi untuk menembus tim utama Persija sangatlah tinggi bagi siapapun pemainnya.
"Tapi seperti yang selalu saya katakan, ini adalah Persija. Siapa pun yang memakai jerseynya punya kualitas dan siapa pun yang saya pilih harus memberikan hasil terbaik," jelasnya.
Ekspektasi tinggi dari pendukung fanatik membuat tekanan untuk memainkan pemain baru semakin menguat setiap pekannya.
Namun, sang arsitek tim merasa heran mengapa publik seolah menutup mata terhadap kontribusi pemain yang sudah ada.