- Paris Saint-Germain sukses melaju ke semifinal Liga Champions usai mengandaskan Liverpool dengan agregat mutlak 4-0 di Anfield.
- Ousmane Dembele menjadi bintang lapangan lewat dua golnya yang sekaligus memperpanjang rekor tak terkalahkan PSG di fase gugur menjadi 9 laga.
- Skuad asuhan Luis Enrique berambisi besar menjadi klub kedua di era modern, setelah Real Madrid, yang mampu mempertahankan trofi Liga Champions Eropa.
"Anda bisa melihat tim seperti apa kami ini, pemain seperti apa yang saya miliki. Kami memiliki rasa percaya diri dan keyakinan. Sungguh luar biasa bisa menjalani pengalaman ini bersama tim ini," ungkap pelatih yang juga pernah juara bersama Barcelona itu.
Aksi Penyelamatan Krusial dan Frustrasi Tuan Rumah
Tim tuan rumah sejatinya memiliki beberapa momentum emas untuk mencetak gol di paruh pertama, meskipun mereka harus kehilangan Hugo Ekitike lebih awal akibat cedera.
Salah satu peluang paling mematikan datang dari sontekan Virgil van Dijk, namun berhasil digagalkan secara epik oleh blok krusial Marquinhos tepat di mulut gawang.
"Bagi seorang pemain bertahan, momen seperti itu lebih baik daripada mencetak gol. Itu hal yang paling saya nikmati," kata Marquinhos kepada Canal+.
"Saya melihat Van Dijk datang dan memiliki refleks untuk menjatuhkan diri ke arah bola. Ini adalah detail-detail yang mengubah sebuah pertandingan," jelas kapten asal Brasil tersebut.
Harapan publik Anfield sempat melambung tinggi di babak kedua ketika wasit Maurizio Mariani menunjuk titik putih atas dugaan pelanggaran Willian Pacho terhadap Alexis Mac Allister.
Namun, gemuruh sorak-sorai pendukung The Reds seketika berubah menjadi rasa frustrasi yang mendalam setelah keputusan penalti tersebut dibatalkan secara sepihak usai peninjauan VAR.
Ketajaman Dembele Jadi Kunci Utama Semifinal
Kegagalan Liverpool dalam memanfaatkan setiap celah momentum langsung dihukum dengan sangat kejam oleh Ousmane Dembele pada menit ke-72 melalui sepakan kaki kirinya dari tepi area penalti.
Striker lincah tersebut kemudian mematikan sisa-sisa asa perlawanan tuan rumah lewat penyelesaian akhir yang tenang dari jarak dekat tepat pada masa injury time.
"Kami sangat senang karena bisa memenangkan pertandingan ini karena laga berjalan sangat sulit, terutama di babak kedua," kata Dembele.
"Tapi kami menemukan cara untuk menang; kami lolos ke semifinal, dan kami sangat gembira," tambahnya.
Sang pelatih pun tak segan melontarkan apresiasi setinggi langit bagi penyerang utamanya yang tidak hanya tajam menyerang, tetapi juga rajin turun membantu area pertahanan.
"Dia adalah pemain yang hebat. Pemain kelas dunia," puji Luis Enrique.
"Dia tidak selalu harus mencetak gol. Kami tahu kemampuannya. Dia juga bisa bertahan dengan baik bersama tim, terutama di babak kedua dan itulah inti dari sebuah tim," pungkasnya.
Latar Belakang Hegemoni PSG dan Mitos Comeback Liverpool
Sebagai latar belakang rekor kompetisi, sejak format Piala Champions berganti nama pada tahun 1992, tercatat baru Real Madrid yang sanggup mencetak hattrick gelar juara beruntun pada periode 2016 hingga 2018.
Paris Saint-Germain kini memikul ambisi besar untuk merusak tatanan dominasi klub-klub tradisional Eropa bermodalkan kedalaman skuad bertabur bintang yang memiliki mentalitas juara sejati.
Di sisi lain, kekalahan pahit ini menjadi pukulan telak bagi sejarah magis Liverpool yang biasanya sangat akrab dengan keajaiban membalikkan keadaan di malam-malam Eropa.
Klub kebanggaan Merseyside ini tercatat pernah melakukan comeback mustahil saat tertinggal 0-3 dari AC Milan pada final 2005, serta momen epik saat membantai Barcelona 4-0 di semifinal 2019 silam demi mengangkat trofi juara.