-
Manchester City hanya berharap Arsenal melakukan kesalahan di dua laga sisa Liga Inggris.
-
Pep Guardiola terpaksa merotasi skuad akibat kelelahan pemain yang mulai mencapai batas fisik.
-
Fokus City kini terpecah antara final Piala FA dan perburuan gelar liga.
"Saya memiliki kepercayaan penuh pada semua anggota skuad," tegas Guardiola membela keputusannya.
Guardiola menyadari bahwa setiap kekalahan sekarang akan langsung mengubur impian mereka untuk mempertahankan takhta juara. Namun, harapan baru akan selalu muncul jika mereka mampu memenangkan laga-laga penentu yang tersisa.
"Jika kami kalah hari ini, kami tahu [semuanya berakhir], tetapi kemudian kami membawa harapan di pertandingan terakhir," ucapnya diplomatis.
"Lawan berikutnya, Bournemouth, wah, lihat apa yang mereka lakukan, dan kemudian Unai Emery [pertandingan terakhir melawan Aston Villa] tidaklah mudah," tambahnya.
Kini Manchester City mengalihkan bidikan ke Wembley dengan target mengamankan trofi lain sembari menanti keajaiban di liga. Kesiapan fisik dan mental akan menjadi kunci utama menghadapi lawan yang memiliki kualitas individu berbahaya.
"Saya tidak bisa meminta lebih dari para pemain," kata Pep Guardiola menutup pernyataannya.
"Kami akan pergi ke Wembley untuk menang, dan kami harus siap secara fisik dan mental melawan tim yang tidak sedang dalam musim terbaiknya, namun kualitasnya tetap ada," pungkasnya.
"Tentu saja, mereka akan melakukan yang terbaik, dan kami harus melakukan yang terbaik untuk mencoba menang," tutup Guardiola.
Manchester City baru saja mengalahkan Crystal Palace dengan skor 3-0, yang membawa mereka menempel ketat Arsenal di puncak klasemen Liga Inggris.
Meski meraih kemenangan krusial, Pep Guardiola memilih melakukan rotasi besar dengan memarkir Erling Haaland dan Jeremy Doku. Hal ini dilakukan karena City harus menghadapi jadwal padat, termasuk final Piala FA melawan Chelsea serta laga kontra Bournemouth dan Aston Villa.