- Chelsea resmi menunjuk Xabi Alonso sebagai pelatih kepala dengan kontrak empat tahun yang efektif mulai 1 Juli 2026.
- Alonso sebelumnya gagal di Real Madrid akibat konflik internal dengan pemain serta minimnya performa tim di lapangan.
- Chelsea tetap memercayai kapasitas Alonso untuk mengembalikan kejayaan klub berdasarkan rekam jejak suksesnya saat melatih Bayer Leverkusen.
Suara.com - Chelsea resmi mengumumkan penunjukan Xabi Alonso sebagai pelatih kepala baru dengan kontrak berdurasi empat tahun yang efektif mulai 1 Juli 2026.
Keputusan tersebut tergolong berani mengingat pelatih asal Spanyol itu baru saja menjalani periode singkat dan penuh tekanan bersama Real Madrid.
Publik kini mempertanyakan apakah sosok yang hanya bertahan selama 233 hari di Santiago Bernabéu itu mampu mengembalikan kejayaan The Blues di Premier League.
Konflik Internal Hancurkan Karier di Madrid
![Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso, meminta publik tetap tenang setelah Los Blancos mencatatkan tiga hasil imbang beruntun di Liga Spanyol. [Instagram Real Madrid]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/12/01/56053-xabi-alonso.jpg)
Menyitat ESPN, kegagalan Alonso di Real Madrid disebut berawal dari memburuknya hubungan dengan sejumlah pemain penting di ruang ganti.
Laporan internal menyebut Vinícius Junior, Jude Bellingham, hingga Federico Valverde merasa kurang cocok dengan pendekatan taktik sang pelatih.
Konflik dengan Vinícius Junior bahkan memanas setelah Alonso mencoba memainkan sang winger di posisi yang tidak biasa.
Situasi memuncak ketika Vinícius tertangkap kamera meluapkan emosinya kepada Alonso saat ditarik keluar pada laga El Clásico kontra Barcelona.
Hubungan yang memburuk tersebut juga disebut memengaruhi proses negosiasi kontrak baru sang pemain yang akan habis pada 2027.
Selain itu, peran Jude Bellingham di lapangan turut menuai sorotan karena dianggap terlalu dibatasi dalam skema permainan Alonso.
Keraguan Manajemen dan Krisis Cedera
Keraguan terhadap kapasitas Alonso sebenarnya sudah muncul sejak awal penunjukannya oleh Presiden Real Madrid, Florentino Pérez.
Pérez disebut khawatir dengan minimnya pengalaman Alonso menangani klub sebesar Los Blancos.
Tekanan semakin meningkat ketika performa tim merosot pada Desember dan membuat posisi Alonso terus disorot.
Masalah kebugaran pemain juga menjadi persoalan serius akibat badai cedera yang mengganggu performa tim sepanjang musim.
Ketika hasil di lapangan tak kunjung membaik, dukungan manajemen terhadap Alonso perlahan mulai menghilang.
Kekalahan Telak Jadi Titik Balik
Salah satu titik terberat dalam masa kepelatihan Alonso adalah kekalahan 0-4 dari Paris Saint-Germain pada ajang Piala Dunia Antarklub di MetLife Stadium.
Hasil tersebut dianggap menjadi awal runtuhnya kepercayaan publik dan petinggi klub terhadap proyek yang dibangun Alonso.
Ekspektasi tinggi di Real Madrid memang membuat pelatih nyaris tidak memiliki ruang untuk membangun tim dalam jangka panjang.
Meski demikian, tidak sepenuhnya adil jika seluruh kegagalan musim itu dibebankan kepada Alonso seorang.
Budaya klub yang sangat tidak sabaran sering kali menjadi tantangan besar bagi pelatih yang mencoba membawa pendekatan baru di Bernabéu.
Harapan Baru Bersama Chelsea
Kini, Alonso menghadapi tantangan baru di Stamford Bridge setelah Chelsea memutuskan berpisah dengan Liam Rosenior bulan lalu.
Ia harus membuktikan bahwa kegagalannya di Madrid lebih disebabkan ketidakcocokan situasi dibanding hilangnya kemampuan meracik strategi.
Rekam jejak sukses Alonso bersama Bayer Leverkusen masih menjadi alasan utama Chelsea percaya kepadanya.
Manajemen The Blues yakin mantan gelandang Liverpool dan Bayern Munich tersebut masih memiliki kapasitas untuk membawa klub kembali bersaing di papan atas.
Musim depan akan menjadi pembuktian besar apakah reputasi Xabi Alonso sebagai salah satu pelatih muda terbaik Eropa masih layak dipertahankan.
