- Pelatih John Herdman menilai Timnas Indonesia kurang tajam karena masalah mentalitas pemain saat menghadapi pertandingan.
- Skuad Garuda sering gagal mencetak gol meskipun tampil dominan karena penyelesaian akhir yang masih belum maksimal.
- Herdman menekankan seluruh pemain, termasuk bek dan gelandang, harus berani menyerang untuk memecah pertahanan lawan.
Suara.com - Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menyoroti persoalan utama skuad Garuda yang dinilainya masih kurang tajam saat menghadapi lawan. Menurutnya, masalah tersebut bukan semata karena absennya striker murni, melainkan pola pikir pemain di lapangan.
Dalam beberapa pertandingan terakhir, Timnas Indonesia kerap tampil dominan namun kesulitan mengonversi peluang menjadi gol. Situasi itu terlihat saat skuad Garuda gagal menumbangkan Bulgaria pada ajang FIFA Series 2026 karena penyelesaian akhir yang belum maksimal.
Sebelumnya, kehadiran Ole Romeny sempat memberi harapan baru untuk lini depan Timnas Indonesia. Namun, cedera parah yang dialaminya membuat sang pemain harus menepi cukup lama.
Permasalahan ketajaman lini depan sebenarnya sudah menjadi perhatian sejak era Shin Tae-yong. Kala itu, Rafael Struick bahkan beberapa kali dipasang sebagai ujung tombak meski posisi alaminya adalah winger.
![Timnas Indonesia Perkuat Aspek Non-Taktikal untuk Hadapi Jepang dan Qatar di Piala Asia 2027. [Dok. KitaGaruda]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/11/70515-timnas-indonesia-jordi-amat.jpg)
Herdman menegaskan bahwa perubahan terbesar yang dibutuhkan Timnas Indonesia ada pada mentalitas seluruh pemain di lapangan.
"Yang harus diubah adalah mentalitasnya. Semua orang terus bicara Indonesia butuh striker nomor sembilan," kata John Herdman kepada awak media.
"Menurut saya, Indonesia membutuhkan mentalitas bahwa semua pemain bisa mencetak gol," jelasnya.
Eks pelatih Timnas Kanada itu menilai tanggung jawab mencetak gol tidak boleh hanya dibebankan kepada pemain depan. Menurutnya, semua pemain harus siap memanfaatkan peluang yang muncul di pertandingan.
Ia bahkan meminta para pemain bertahan ikut aktif membantu serangan demi menciptakan variasi permainan yang lebih berbahaya.
"Kami harus membangun pola pikir bahwa wing-back, gelandang, bek tengah, semua punya tanggung jawab menyerang dan mencetak gol."
"Indonesia selama ini terlalu pasif. Bertahan, transisi, bertahan, dan transisi. Kami perlu lebih banyak pemain yang berpikir menyerang, membuat overload, dan berani menembus lini lawan," terangnya.
Herdman juga menyoroti gaya bermain Timnas Indonesia yang selama ini terlalu mengandalkan serangan balik cepat.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat tim kesulitan ketika menghadapi lawan yang bermain bertahan.
Meski begitu, ia menilai fondasi permainan Timnas Indonesia sebenarnya sudah cukup baik, terutama di sektor pertahanan. Fokus utama saat ini adalah meningkatkan kualitas permainan di area sepertiga akhir lapangan.
"Saya rasa dua pertiga permainan sudah bagus. Tetapi area final third masih memiliki banyak kekurangan dan itu akan kami perbaiki," tutupnya.