- Portugal bermain imbang 1-1 melawan DR Congo di Stadion Houston pada laga pembuka Piala Dunia 2026, Kamis (18/6/2026).
- Cristiano Ronaldo mencetak rekor sebagai pemain lapangan tertua yang tampil sebagai starter dalam sejarah turnamen Piala Dunia tersebut.
- Performa Ronaldo yang kurang efektif memicu perdebatan mengenai produktivitas tim serta ketergantungan Portugal terhadap sang kapten berusia 41 tahun.
Suara.com - Penampilan Cristiano Ronaldo menjadi sorotan setelah Portugal gagal meraih kemenangan pada laga pembuka Piala Dunia 2026.
Selecao das Quinas harus puas bermain imbang 1-1 melawan DR Congo di Stadion Houston, Texas, Kamis (18/6/2026) dini hari WIB.
Dalam pertandingan yang memunculkan pertanyaan mengenai peran dan efektivitas sang megabintang di usia 41 tahun.
Portugal sebenarnya memulai pertandingan dengan baik. Gol cepat Joao Neves melalui sundulan membawa tim asuhan Roberto Martinez unggul dan mengendalikan jalannya laga.
Dengan dukungan lini tengah yang dihuni pemain-pemain kreatif seperti Vitinha, Bruno Fernandes, dan Bernardo Silva, Portugal mendominasi penguasaan bola sepanjang pertandingan.
![Kapten timnas Portugal, Cristiano Ronaldo, menanggapi hasil imbang 1-1 melawan RD Kongo di matchday pertama grup K Piala Dunia 2026, Kamis (18/6) dinihari WIB. [@strootsys]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/18/49680-cristiano-ronaldo.jpg)
Namun dominasi tersebut gagal diterjemahkan menjadi peluang berbahaya.
Meski unggul dalam jumlah operan dan penguasaan bola, Portugal kesulitan menciptakan peluang matang di depan gawang lawan.
Ronaldo, yang dipercaya menjadi ujung tombak serangan, menjalani pertandingan yang jauh dari performa terbaiknya.
Kapten Portugal itu hanya mencatatkan 25 sentuhan bola dan gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang laga.
Hasil akhir juga menunjukkan efektivitas DR Congo yang lebih baik. Tim asal Afrika tersebut mencatatkan delapan percobaan tembakan dibanding tujuh milik Portugal, dua tembakan tepat sasaran berbanding satu, serta nilai expected goals (xG) yang lebih tinggi, yakni 0,82 dibanding 0,64.
Rekor Baru, Tantangan Baru
Terlepas dari hasil yang kurang memuaskan, Ronaldo tetap menorehkan sejarah. Pada usia 41 tahun 132 hari, ia menjadi pemain lapangan tertua yang tampil sebagai starter dalam sejarah Piala Dunia, memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang mantan kapten Kanada, Atiba Hutchinson.
Rekor tersebut menjadi bukti konsistensi dan daya tahan Ronaldo yang mampu bertahan di level tertinggi selama lebih dari dua dekade. Namun, usia yang terus bertambah mulai memunculkan tantangan baru terhadap gaya bermainnya.
Jika pada masa mudanya Ronaldo dikenal sebagai pemain sayap eksplosif dengan kecepatan dan kemampuan menggiring bola, kini ia lebih banyak beroperasi sebagai penyerang tengah yang berfokus pada penyelesaian akhir.
Perubahan peran itu membuat kontribusinya sangat bergantung pada produktivitas gol. Sayangnya, statistik menunjukkan performanya di turnamen besar mulai menurun. Ronaldo tercatat belum mencetak gol dalam 10 pertandingan terakhirnya di ajang Piala Dunia dan Piala Eropa.
Kekhawatiran bagi Portugal
Hasil imbang melawan DR Congo memunculkan perdebatan mengenai ketergantungan Portugal terhadap Ronaldo. Meski masih menjadi figur sentral dan pemimpin di ruang ganti, efektivitas permainan tim ketika Ronaldo berada di lapangan mulai menjadi perhatian.
Dalam empat pertandingan terakhir Portugal di turnamen besar, Ronaldo tampil selama 396 menit dari total 420 menit yang tersedia. Dalam periode tersebut, Portugal hanya mampu mencetak satu gol.
Data juga menunjukkan produktivitas tim cenderung lebih tinggi saat Ronaldo tidak bermain. Portugal rata-rata mencetak 1,9 gol per pertandingan ketika Ronaldo menjadi starter, sementara angka tersebut meningkat menjadi 2,8 gol ketika ia tidak tampil.
Situasi ini menjadi tantangan bagi pelatih Roberto Martinez yang harus menemukan keseimbangan antara mempertahankan peran Ronaldo sebagai ikon tim dan memastikan Portugal tetap kompetitif di level tertinggi.
Perbandingan dengan Messi
Performa Ronaldo juga kembali memunculkan perbandingan dengan rival lamanya, Lionel Messi. Meski keduanya berada di fase akhir karier, Messi dinilai berhasil beradaptasi dengan memainkan peran lebih dalam sebagai kreator serangan bagi Argentina.
Sebaliknya, Ronaldo masih beroperasi sebagai penyerang utama yang bertugas menyelesaikan peluang. Ketika penyelesaian akhirnya tidak berjalan efektif, dampaknya langsung terasa terhadap produktivitas Portugal.
Padahal, Portugal memiliki sejumlah gelandang kreatif yang mampu menciptakan peluang, seperti Bruno Fernandes, Vitinha, dan Bernardo Silva. Namun tanpa penyelesaian yang maksimal di lini depan, dominasi permainan kerap berakhir tanpa hasil.
Jalan Portugal Masih Panjang
Meski gagal meraih kemenangan pada laga perdana, peluang Portugal untuk melaju ke fase gugur masih terbuka lebar. Namun hasil melawan DR Congo menjadi peringatan bahwa dominasi penguasaan bola saja tidak cukup untuk bersaing di Piala Dunia.
Bagi Ronaldo, turnamen di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini kemungkinan besar menjadi penampilan terakhirnya di panggung Piala Dunia. Karena itu, setiap pertandingan akan menjadi ujian penting untuk membuktikan bahwa dirinya masih mampu memberikan kontribusi besar bagi Portugal dalam perburuan gelar juara dunia pertama mereka.
