Portugal, Monolog Panjang yang Tak Menggugah

Ak Supriyanto | Esais dan Anggota Socio FC Porto

Portugal, Monolog Panjang yang Tak Menggugah
Ak Supriyanto | Esais dan Anggota Socio FC Porto. [Gemini]
baca 10 detik
  • Portugal mendominasi penguasaan bola 68 persen melawan DR Kongo pada laga Piala Dunia dengan menciptakan 22 tembakan.
  • Strategi bertahan rapat DR Kongo berhasil mematahkan serangan Portugal dan mencetak gol melalui skema serangan balik kilat.
  • Portugal gagal meraih kemenangan karena penyelesaian akhir yang kurang tajam serta kelengahan barisan pertahanan saat menjaga garis tinggi.

Suara.com - Di atas panggung Piala Dunia, taktik adalah sejenis puisi yang dipertaruhkan.

Babak pertama Portugal vs DR Kongo menggambarkan pertaruhan itu dengan sempurna.

Portugal hadir bagai orkestra yang membanjiri panggung dengan crescendo tiada henti.

Trio PSG—Vitinha, Joao Neves, Nuno Mendes—bergerak dalam segitiga berputar yang mengingatkan pada anyaman sutra.

Vitinha menjadi dalang pemilin ritme. Joao Neves si pengalir denyut nadi, menekan ruang-ruang hampa. Nuno Mendes melesat di sayap kiri bagai kidung angin laut.

Mereka menggulung bola dengan penguasaan 68 persen. Melepas 22 tembakan. Hanya empat yang mengarah tepat sasaran.

Di sinilah letak tragiknya:

Dominasi tanpa pembunuhan adalah monolog panjang yang tak menggugah siapa pun.

DR Kongo memilih bertahan.

baca juga

Bukan dengan kepengecutan. Melainkan dengan seni low block yang disusun rapi—bak barikade sajak-sajak tua.

Mereka mengundang ombak Seleccao datang, menabrakkan diri di kaki-kaki bukit bernama Chancel Mbemba dan Axel Tuanzebe.

Lalu, ketika Portugal terlalu asyik dengan irama lintasan bolanya sendiri, Kongo menyelinap balik.

Bagai metafora yang muncul di akhir bait.

Satu serangan balik kilat—hanya tiga sepanjang laga. Cukup untuk mengoyak jala. Di situlah ironi pahit itu lahir:

Portugal bermain seperti penyair yang menulis seribu baris. Kongo hanya menulis satu kalimat pendek. Dan kalimat itu membunuh.

Di lini tengah, trio PSG memang memenangkan duel-duel pendek.

Tapi mereka lupa: sepakbola tak pernah berakhir di area tengah. Umpan-umpan terukur dari Vitinha menuju Ronaldo dan Rafael Leao seakan jatuh ke pangkuan rimba raya.

Ronaldo sudah bergerak tanpa bola—nalurinya setajam silet. Berkali-kali ia menarik garis lari menusuk. Tapi bola-bola terobosan sering datang sepersekian detik terlambat. Atau lebih parah: melebar menjadi umpan sia-sia.

Ketajaman di ujung tombak berubah menjadi pisau yang tumpul.

Dari 22 tembakan, hanya empat yang memaksa kiper Kongo terjatuh. Itu bukan lagi statistik. Itu adalah rintihan dari setiap fans yang melihat peluang emas sirna menjadi angin.

Lini belakang Portugal—yang dikawal Ruben Dias dan Antonio Silva—terlalu percaya diri menggiring garis tinggi.

Mereka seperti penjaga mercusuar yang asyik menatap laut luas, lupa bahwa ombak bisa datang dari balik karang. Saat gol Kongo tercipta, ruang di antara bek sayap dan bek tengah terbuka selebar celah puisi yang kehilangan rimanya.

Satu detik lengah. Satu denyut hati hilang. Mimpi indah itu pun retak.

Namun, refleksi tajam kita harus berhenti di sini:

Kegagalan menyelesaikan peluang dan kelengahan di belakang bukanlah akhir dari naskah. Ini hanyalah adegan di babak pertama drama panjang.

Portugal masih memiliki kans. Mereka sudah membuktikan bisa membongkar pertahanan rapat. Yang mereka perlukan kini adalah "ngegrip"—menggenggam momen dengan lebih dingin.

Menahan nafsu untuk terburu-buru di kotak penalti. Mengubah 22 tembakan menjadi tiga gol di pertandingan berikutnya.

Di sisi belakang, mereka harus kembali mengingat nyanyian kewaspadaan:

Jangan biarkan satu anak panah menghancurkan istana yang dibangun dari 90 menit dominasi.

Bagi kita, para penggemar yang dadanya sesak menyaksikan ini—kegundahan adalah wujud cinta.

Kita melihat Ronaldo di akhir babak mengangkat tangan ke langit. Bukan kepada wasit. Melainkan kepada waktu yang terus merayap. Piala Dunia ini adalah gulungan terakhir dari kitab suci petualangannya.

Maka, biarlah hasil imbang ini menjadi bara yang membakar semangat, bukan padam yang mematikan asa. DR Kongo mungkin mengajarkan bahwa sepakbola tak selalu adil bagi penguasa bola.

Tapi di jalan panjang menuju kejayaan, yang tersisa bagi Seleccao hanyalah satu mantra:

Terus berlari. Terus menusuk. Terus bertahan.

Sampai detak jantung terakhir pertandingan menggema sebagai lagu kemenangan. Atau setidaknya, sebagai tangisan kehormatan yang tak pernah mengenal kata menyerah

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tayangan Piala Dunia 2026 Hilang di TVRI? Begini Solusinya

Tayangan Piala Dunia 2026 Hilang di TVRI? Begini Solusinya

Bola | Kamis, 18 Juni 2026 | 11:40 WIB

Cristiano Ronaldo Catat Rekor Unik di Piala Dunia 2026

Cristiano Ronaldo Catat Rekor Unik di Piala Dunia 2026

Bola | Kamis, 18 Juni 2026 | 11:32 WIB

Performa Mulai Jadi Sorotan, Cristiano Ronaldo Kini Titik Lemah Portugal di Piala Dunia 2026

Performa Mulai Jadi Sorotan, Cristiano Ronaldo Kini Titik Lemah Portugal di Piala Dunia 2026

Bola | Kamis, 18 Juni 2026 | 11:26 WIB

Lionel Messi Picu Kontroversi, Dianggap Dapat Perlakuan Khusus FIFA

Lionel Messi Picu Kontroversi, Dianggap Dapat Perlakuan Khusus FIFA

Bola | Kamis, 18 Juni 2026 | 11:18 WIB

Jadi Korban Rasisme di Piala Dunia 2026, FIFA Undang YouTuber Korsel Nonton Korea Selatan vs Meksiko

Jadi Korban Rasisme di Piala Dunia 2026, FIFA Undang YouTuber Korsel Nonton Korea Selatan vs Meksiko

Bola | Kamis, 18 Juni 2026 | 11:07 WIB

Terkini

Krisis Imigran Maroko ke Spanyol Disorot, Dugaan Ada Campur Tangan Israel

Krisis Imigran Maroko ke Spanyol Disorot, Dugaan Ada Campur Tangan Israel

News | Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:29 WIB

Kisah Haru Lia di Sekolah Rakyat, Untuk Pertama Kalinya Mengenakan Seragam Baru

Kisah Haru Lia di Sekolah Rakyat, Untuk Pertama Kalinya Mengenakan Seragam Baru

News | Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:27 WIB

Harga Cuma Rp1 Jutaan, 5 HP Ini Punya Kamera di Atas Ekspektasi

Harga Cuma Rp1 Jutaan, 5 HP Ini Punya Kamera di Atas Ekspektasi

Your Say | Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:20 WIB

Telan Anggaran Rp 3,82 Triliun, Purbaya Minta Fasilitas Sekolah Rakyat Layak Dipakai

Telan Anggaran Rp 3,82 Triliun, Purbaya Minta Fasilitas Sekolah Rakyat Layak Dipakai

Bisnis | Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:19 WIB

Kapal Mutiara Sentosa Terbakar di Perairan Madura, Penumpang Terjun ke Laut

Kapal Mutiara Sentosa Terbakar di Perairan Madura, Penumpang Terjun ke Laut

News | Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:18 WIB

Kinerja Ekspor Industri Tekstil RI Diproyeksi Moncer pada 2027, Tumbuh hingga 4%

Kinerja Ekspor Industri Tekstil RI Diproyeksi Moncer pada 2027, Tumbuh hingga 4%

Bisnis | Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:16 WIB

Disumbang Pemerintah, Laba Bersih Pupuk Indonesia Meroket 250,3% di Semester I-2026

Disumbang Pemerintah, Laba Bersih Pupuk Indonesia Meroket 250,3% di Semester I-2026

Bisnis | Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:14 WIB

Pemda Guyur Anggaran Rp 500 Juta buat Alokasi Pendidikan

Pemda Guyur Anggaran Rp 500 Juta buat Alokasi Pendidikan

Bisnis | Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:11 WIB

Ironi Ruang Kota: Ketika Mal Harus Terbuka, tapi "Rumah Rakyat" Dipagari Kawat Berduri

Ironi Ruang Kota: Ketika Mal Harus Terbuka, tapi "Rumah Rakyat" Dipagari Kawat Berduri

Your Say | Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:10 WIB

Tekiro Cetak Sejarah Dunia Lewat Kompetisi Mekanik Terbesar di GIIAS 2026

Tekiro Cetak Sejarah Dunia Lewat Kompetisi Mekanik Terbesar di GIIAS 2026

Otomotif | Minggu, 02 Agustus 2026 | 13:10 WIB

×