-
Jepang menantang Brasil pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 dengan strategi menyerang.
-
Kemenangan 3-2 pada Kirin Cup 2025 menjadi modal utama kepercayaan diri Samurai Biru.
-
Pelatih Hajime Moriyasu fokus membenahi lini pertahanan menjelang laga hidup mati tersebut.
Suara.com - Pelatih Timnas Jepang, Hajime Moriyasu, menegaskan skuad Samurai Biru siap memberikan perlawanan maksimal saat menghadapi Brasil pada babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Laga sarat gengsi tersebut dijadwalkan berlangsung pada Selasa (30/6/2026). Jepang datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah mengakhiri fase grup sebagai runner-up Grup F, sedangkan Brasil melangkah ke fase gugur dengan predikat juara Grup C.
Performa Jepang sepanjang turnamen sejauh ini mendapat banyak pujian. Wakil Asia tersebut mampu tampil konsisten dan kembali membuktikan diri sebagai salah satu tim paling kompetitif dari kawasan Asia.

Menghadapi tim sekelas Brasil, Moriyasu mengakui anak asuhnya akan menghadapi tantangan yang sangat berat.
Namun, ia memastikan Jepang tidak akan datang hanya untuk bertahan, melainkan berusaha memberikan permainan terbaik demi merebut tiket ke babak berikutnya.
"Terakhir kali kami membuktikan kepada Brasil bahwa kami bukanlah lawan yang mudah dikalahkan," kata Hajime Moriyasu dilansir dari laman Reuters.
Moriyasu menilai perkembangan sepak bola Jepang dalam beberapa tahun terakhir berjalan sangat positif.

Salah satu buktinya adalah kemenangan 3-2 atas Brasil pada ajang Kirin Cup 2025, hasil yang menjadi suntikan kepercayaan diri bagi Samurai Biru menjelang duel di Piala Dunia.
"Itu merupakan kemajuan besar bagi kami. Tim Brasil adalah salah satu tim terbaik di dunia dan kami sangat menghormati mereka."
"Dalam pertandingan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kami juga akan memiliki peluang untuk menang," ujarnya.
Selain itu, Moriyasu merasa perjalanan Jepang di Piala Dunia 2026 menunjukkan kemajuan yang signifikan.
Hasil imbang melawan Belanda dan Swedia menjadi bukti bahwa timnya mampu bersaing dengan negara-negara elite dunia.
Meski demikian, pelatih berusia 57 tahun itu menegaskan Jepang belum mencapai performa terbaiknya.
Ia menilai masih banyak aspek yang harus dibenahi mengingat tingkat kesulitan pertandingan akan terus meningkat di fase gugur.
"Kami kebobolan satu gol dan dalam dunia sepak bola, hal seperti itu memang biasa terjadi. Itulah yang ingin kami lakukan sejak awal kompetisi dan ini adalah bukti pertumbuhan sepak bola Jepang," pungkasnya.
