- Penggunaan teknologi VAR pada fase grup Piala Dunia 2026 memicu perdebatan akibat berbagai keputusan krusial yang kontroversial.
- Beragam tim peserta merasa dirugikan oleh keputusan VAR, mulai dari penganuliran gol hingga pengabaian penalti yang berdampak signifikan.
- Federasi sepak bola Brasil resmi mendesak FIFA untuk melakukan evaluasi menyeluruh terkait konsistensi penggunaan teknologi VAR dalam pertandingan.
Suara.com - Penggunaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) kembali memicu perdebatan sepanjang fase grup Piala Dunia FIFA 2026.
Sejumlah keputusan krusial dinilai kontroversial, bahkan berdampak langsung pada peluang tim lolos ke fase gugur.
Salah satu momen paling menyakitkan dialami Timnas Iran saat menghadapi Timnas Mesir.
Gol menit akhir Shoja Khalilzadeh dianulir setelah VAR menyatakan offside.
Kontroversi juga terjadi saat Timnas Kolombia menghadapi Timnas Portugal.
Sundulan Davinson Sanchez di menit akhir dianulir karena offside yang hanya terpaut ujung kaki.
![Timnas Inggris ditahan Ghana 0-0 di Piala Dunia 2026. Simak 5 fakta menarik, mulai dari rekor penguasaan bola hingga penampilan impresif Marc Guéhi. [Dok. IG England]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/24/39223-timnas-inggris-ditahan-ghana-0-0-di-piala-dunia-2026.jpg)
Keputusan itu membuat Kolombia kehilangan kemenangan penting yang bisa menjaga rekor sempurna mereka di fase grup.
Sementara itu, Timnas Ghana merasa dirugikan saat menghadapi Timnas Inggris.
Mereka tidak mendapatkan penalti meski terjadi kontak jelas di kotak terlarang.
Pelatih Ghana, Carlos Queiroz, melontarkan kritik tajam.
“VAR seperti sedang minum kopi,” ujarnya dengan nada frustrasi usai pertandingan.
Kontroversi lainnya muncul dalam laga Timnas Brasil melawan Timnas Skotlandia.
Gol Vinícius Júnior dianulir karena dianggap melakukan pelanggaran ringan dalam prosesnya.
Keputusan tersebut memicu reaksi keras dari federasi sepak bola Brasil.
Federasi Brasil bahkan meminta FIFA untuk mengevaluasi konsistensi penggunaan VAR.
