-
Ketenangan pelatih Carlo Ancelotti membakar mentalitas skuad Brasil untuk bangkit menumbangkan perlawanan ketat Jepang.
-
Perubahan taktik dan keputusan mempertahankan Casemiro menjadi kunci penting kemenangan comeback Timnas Brasil.
-
Hasil krusial ini menjadi kemenangan comeback pertama Brasil di fase gugur sejak Piala Dunia 2002.
"Sangat tidak mudah menghadapi lawan seperti itu. Kami bisa melihat betapa besar kebanggaan yang mereka tunjukkan di lapangan. Saya percaya setelah kami keluar dengan mentalitas ingin menyelesaikan pertandingan, ingin memaksakan gaya permainan kami pada laga tersebut – dan alhamdulillah, meskipun sulit – semuanya berhasil pada akhirnya. Di babak pertama, kalau dipikir-pikir, kami mencoba melakukan hal yang hampir sama persis, tetapi rasa urgensi kami membuat perbedaan di babak kedua," tutur Cunha kepada FIFA.
Ketangguhan mental anak asuh Ancelotti tidak lepas dari reputasi sang pelatih yang telah memenangkan berbagai trofi bergengsi Eropa. Karakter tenang pria Italia itu tetap tidak goyah bahkan saat tensi pertandingan mencapai titik tertinggi di masa krusial.
Puncak drama terjadi saat Gabriel Martinelli menceploskan gol kemenangan dramatis pada masa injury time babak kedua. Ketika seluruh staf dan pemain cadangan melompat kegirangan, Ancelotti hanya berdiri mematung dengan raut wajah yang sangat tenang.
"Ancelotti adalah orang yang tidak nyata. Di babak pertama, dia memberi kami kepercayaan diri, dia memberi tahu kami bahwa kami akan mencetak gol dan bangkit. Tidak peduli kapan gol itu akan dicetak. Kami merasakan ketenangannya. Itu membuat kami rileks." pungkas Martinelli sang penentu kemenangan.
