-
FIFA dan PSSI mendesak suporter menghentikan perundungan siber terhadap pemain Timnas Indonesia usai Piala AFF.
-
PSSI meminta fans mengkritik performa secara sportif tanpa melakukan doxing maupun teror keluarga.
-
Kompetisi I.League 2026/2027 diharapkan jadi momentum pemain bangkit dalam lingkungan yang lebih aman.
Suara.com - FIFA kembali mengingatkan pentingnya menjaga sepak bola sebagai ruang yang aman bagi seluruh pihak, termasuk pemain, ofisial, dan suporter, baik di dalam stadion maupun di dunia digital. Menanggapi hal tersebut PSSI pun meminta suporter hentikan serangan yang tak terpuji ke pemain.
Pesan yang disampaikan FIFA ada dalam unggahan Instagram bertajuk “Protecting players online around the world” dengan seruan “Stop Hate, Protect Football”.
Pesan FIFA itu menjadi relevan setelah Timnas Indonesia gagal melaju ke semifinal Piala AFF 2026. Hasil tersebut memicu kekecewaan di kalangan suporter dan berujung pada munculnya hujatan hingga serangan personal terhadap sejumlah pemain di media sosial.
![Insiden mengerikan warnai laga Eredivisie saat bek Fortuna Sittard, Justin Hubner, tak sengaja buat kaki Lewis Holtby robek. Sang pemain langsung minta maaf! [Dok. IG Justin Hubner]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/82856-justin-hubner.jpg)
Kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2026 memang menjadi bahan evaluasi.
Namun, kekecewaan atas hasil pertandingan tidak seharusnya berubah menjadi penghinaan, perundungan, penyebaran data pribadi, ancaman, maupun serangan terhadap keluarga pemain.
Bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, menjadi salah satu pemain yang menghadapi situasi tersebut. Tidak hanya dirinya, keluarga Hubner juga turut menjadi sasaran serangan di media sosial.
PSSI kemudian menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut. Ketua Umum PSSI Erick Thohir dan Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi meminta masyarakat tetap memberikan kritik secara proporsional kepada pemain dan pelatih.
“Kami mengakui bahwa hasil di Piala AFF 2026 belum memenuhi harapan. Namun, evaluasi harus dilakukan dengan kepala dingin dan tanggung jawab, bukan melalui kebencian," kata Yunus Nusi dalam keterangannya.
"Pemain boleh dikritik secara sportif, tetapi martabat dan keselamatan mereka—termasuk keluarga—harus tetap dihormati. Kekalahan bukan alasan untuk membenarkan kebencian," jelasnya.
PSSI menilai kritik tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan sepak bola. Namun, kritik seharusnya diarahkan kepada performa, keputusan, maupun proses yang memang bisa dievaluasi, bukan menyerang pemain secara pribadi.
Pesan tersebut juga disampaikan menjelang bergulirnya kompetisi sepak bola nasional musim 2026/2027. Kompetisi I.League 2026/2027, yakni Super League dan Championship 2026-27, dijadwalkan mulai berlangsung pada 4 dan 11 September 2026.
Kompetisi domestik diharapkan menjadi momentum bagi para pemain untuk kembali membangun kepercayaan diri. Mereka juga memiliki kesempatan meningkatkan performa sekaligus memperjuangkan tempat di Timnas Indonesia.
Klub-klub pun membutuhkan dukungan positif dari suporter sepanjang musim. Dukungan tersebut dinilai penting agar proses pembinaan, regenerasi, dan persaingan antarpemain dapat berlangsung secara sehat.
PSSI mengajak suporter menyalurkan kekecewaan dengan cara yang tetap menghormati pemain dan klub. Masyarakat juga didorong untuk hadir ke stadion dengan tertib, menyaksikan pertandingan melalui kanal resmi, serta membeli tiket dan produk klub secara legal.
Di media sosial, suporter diminta tidak ikut menyebarkan konten yang berisi ujaran kebencian, perundungan, doxing, ataupun ancaman. Konten semacam itu justru dianjurkan untuk dilaporkan tanpa ikut memperluas penyebarannya.
"Saya berharap dukungan kepada pemain tidak berhenti ketika hanya berseragam Timnas. Dukungan juga saat mereka bersama klub masing-masing," ucapnya.
"Kritik boleh tajam, tetapi tidak boleh menjadi kebencian. Dukung pemainnya, hormati manusianya, dan jaga sepakbolanya," pungkas Yunus Nusi.