- PSSI turun tangan merespons serangan serta hujatan media sosial terhadap bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, beserta keluarganya.
- Sekjen PSSI Yunus Nusi meminta masyarakat memberikan kritik secara sportif dan proporsional tanpa menyerang ranah pribadi.
- PSSI mengajak suporter menyalurkan kekecewaan secara positif demi menjaga keamanan lingkungan sepak bola nasional maupun digital.
Suara.com - PSSI turun tangan menyikapi serangan di media sosial yang menimpa bek Timnas Indonesia, Justin Hubner.
Tidak hanya sang pemain, keluarga Hubner juga disebut turut menjadi sasaran hujatan dan serangan personal dari warganet.
Situasi tersebut menjadi perhatian setelah Timnas Indonesia gagal melaju ke semifinal Piala AFF 2026.
Kegagalan itu memunculkan kekecewaan di kalangan suporter yang kemudian sebagian berujung pada serangan terhadap pemain di media sosial.
Justin Hubner menjadi salah satu pemain yang terkena dampaknya, meski sang pemain tidak tampil di ajang tersebut.
Ini setelah Justin pasang badan untuk Timnas Indonesia usai kegagalan itu.
![Bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, kembali menjadi sasaran ancaman dari orang tak dikenal di media sosial, pelaku pengancaman diduga ialah netizen asal Vietnam. [Tangkap layar IG]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/08/17/90811-ancaman-pembunuhan-justin-hubner.jpg)
Ia menyindir pertemuan Indonesia dengan Vietnam di ajang lain berujung serangan netizen Vietnam.
Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi meminta masyarakat tetap memberikan kritik secara proporsional kepada pemain maupun pelatih.
“Kami mengakui bahwa hasil di Piala AFF 2026 belum memenuhi harapan. Namun, evaluasi harus dilakukan dengan kepala dingin dan tanggung jawab, bukan melalui kebencian," kata Yunus Nusi dalam keterangannya.
Menurut Yunus, pemain tetap memiliki hak untuk mendapatkan kritik atas penampilannya.
Namun, kritik tersebut harus diberikan secara sportif dan tidak menyentuh ranah pribadi.
"Pemain boleh dikritik secara sportif, tetapi martabat dan keselamatan mereka termasuk keluarga harus tetap dihormati. Kekalahan bukan alasan untuk membenarkan kebencian," jelasnya.
Sikap PSSI tersebut sejalan dengan pesan FIFA mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sepak bola yang aman, termasuk di ruang digital.
FIFA sebelumnya mengunggah kampanye bertajuk “Protecting players online around the world” dengan seruan “Stop Hate, Protect Football”.
Pesan tersebut menekankan bahwa pemain, ofisial, dan suporter harus mendapatkan perlindungan dari kebencian serta perilaku tidak terpuji, baik ketika berada di stadion maupun saat beraktivitas di dunia maya.
PSSI pun mengingatkan bahwa kritik tetap dibutuhkan untuk perkembangan sepak bola Indonesia.
Akan tetapi, sasaran kritik seharusnya berkaitan dengan performa, keputusan, atau proses yang memang dapat dievaluasi.
Serangan yang menyasar kehidupan pribadi pemain maupun keluarga dinilai sudah berada di luar batas kritik sepak bola.
Karena itu, PSSI meminta suporter tidak ikut memperluas penyebaran konten yang berisi ujaran kebencian, perundungan, doxing, atau ancaman.
PSSI juga mengajak masyarakat menyalurkan kekecewaan melalui cara yang lebih positif.
Suporter diharapkan tetap memberikan dukungan kepada pemain ketika membela klub masing-masing setelah kompetisi domestik kembali bergulir.
"Saya berharap dukungan kepada pemain tidak berhenti ketika hanya berseragam Timnas. Dukungan juga saat mereka bersama klub masing-masing," ucapnya.
Kompetisi I.League 2026/2027 yang terdiri dari Super League dan Championship 2026-27 dijadwalkan kembali bergulir pada September 2026.
Momen tersebut diharapkan menjadi kesempatan bagi para pemain untuk bangkit dan meningkatkan performa.
"Kritik boleh tajam, tetapi tidak boleh menjadi kebencian. Dukung pemainnya, hormati manusianya, dan jaga sepakbolanya," pungkas Yunus Nusi.