- Alexandra Christy mendirikan wirausaha sosial Gaia Weave di Kalimantan Selatan untuk mengolah rumput purun.
- Usaha ini bermitra dengan 126 perajin di 15 desa untuk memproduksi ribuan barang fungsional setiap bulan.
- Kemitraan tersebut berhasil meningkatkan pendapatan bulanan para perajin lokal sekitar 100 hingga 150 persen.
Suara.com - Selama ini, rumput purun mungkin lebih dikenal sebagai bahan anyaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan. Namun, di tangan anak muda, tanaman yang tumbuh di lahan basah ini bisa memiliki cerita yang lebih panjang: dari menjaga lanskap gambut hingga membuka peluang ekonomi bagi para perajin.
Peluang tersebut dikembangkan Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta, melalui Gaia Weave, wirausaha sosial yang mengolah purun (Lepironia articulata) menjadi berbagai produk fungsional, seperti tas, aksesori, tech organizer, document pouch, hingga kebutuhan rumah tangga.
Alexandra mulai mengembangkan Gaia Weave pada 2025 setelah mengunjungi Kalimantan Selatan. Ia melihat para perajin sebenarnya telah memiliki keterampilan mengolah purun, tetapi masih menghadapi tantangan dalam mendapatkan akses pasar yang konsisten dan memberikan nilai tambah.
Dari situ, ia mencoba membangun rantai usaha dari hulu hingga hilir. Purun diproses dan dianyam oleh perajin lokal, kemudian dikembangkan menjadi produk yang dapat digunakan dalam keseharian.
“Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah. Dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membantu membangun insentif agar masyarakat tetap melihat nilai dari lanskap tempat purun tumbuh,” ujar Alexandra.
Purun sendiri tumbuh secara alami di lingkungan basah, termasuk kawasan gambut dan rawa. Karakter ini membuat pemanfaatannya memiliki kaitan dengan upaya menjaga lanskap gambut tetap basah.
Lahan gambut berperan dalam menyimpan karbon dan menjaga tata air. Ketika dikeringkan, dibakar, atau dialihfungsikan, fungsi ekologisnya dapat terganggu. Karena itu, menjaga keberadaan lanskap tersebut juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghidupan dari lingkungan sekitarnya.

Di titik inilah purun menawarkan peluang yang menarik. Tanaman yang tumbuh di lahan basah dapat menjadi sumber material sekaligus sumber penghasilan ketika diolah dan dipasarkan dengan nilai yang lebih tinggi.
Saat ini, Gaia Weave bermitra dengan 126 perajin di 15 desa di Kalimantan Selatan. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 6.000 unit per bulan, dengan produk yang telah tersedia di lebih dari 100 gerai ritel.
Dampaknya juga dirasakan para perajin. Kemitraan tersebut disebut membantu meningkatkan pendapatan sekitar 100–150 persen, dari sebelumnya Rp1 juta–Rp1,5 juta menjadi sekitar Rp2,7 juta–Rp3 juta per bulan.
Bagi sebagian perajin yang juga bekerja sebagai petani, menganyam purun dapat dilakukan dari rumah sebagai sumber pendapatan tambahan.
“Ekonomi sirkular bukan hanya tentang material yang dapat digunakan kembali atau terurai. Yang tidak kalah penting adalah memastikan orang-orang dalam rantai pasok mendapatkan manfaat yang adil,” kata Alexandra.
Dari sehelai rumput yang tumbuh di lahan basah, cerita purun akhirnya berkembang menjadi lebih dari sekadar kerajinan. Ada keterampilan yang dipertahankan, penghasilan yang bertambah, dan upaya untuk membuat masyarakat melihat kembali nilai dari alam di sekitar mereka.
Gaia Weave menargetkan dapat bermitra dengan lebih dari 1.000 perajin pada 2030, sekaligus memperluas pasar hingga ekspor. Alexandra berharap langkah tersebut dapat menunjukkan bahwa produk sehari-hari pun bisa menjadi bagian dari solusi ketika material, desain, dan rantai pasok dibangun dengan mempertimbangkan manusia dan lingkungan.