Dari Gambut Kalimantan ke Pasar Modern: Mengubah Rumput Purun Jadi Napas Baru Perajin Lokal

Vania Rossa

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:09 WIB
Dari Gambut Kalimantan ke Pasar Modern: Mengubah Rumput Purun Jadi Napas Baru Perajin Lokal
Anak Muda Indonesia Kembangkan Purun untuk Jaga Gambut. (Dok. Ist)
baca 10 detik
  • Alexandra Christy mendirikan wirausaha sosial Gaia Weave di Kalimantan Selatan untuk mengolah rumput purun.
  • Usaha ini bermitra dengan 126 perajin di 15 desa untuk memproduksi ribuan barang fungsional setiap bulan.
  • Kemitraan tersebut berhasil meningkatkan pendapatan bulanan para perajin lokal sekitar 100 hingga 150 persen.

Suara.com - Selama ini, rumput purun mungkin lebih dikenal sebagai bahan anyaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan. Namun, di tangan anak muda, tanaman yang tumbuh di lahan basah ini bisa memiliki cerita yang lebih panjang: dari menjaga lanskap gambut hingga membuka peluang ekonomi bagi para perajin.

Peluang tersebut dikembangkan Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta, melalui Gaia Weave, wirausaha sosial yang mengolah purun (Lepironia articulata) menjadi berbagai produk fungsional, seperti tas, aksesori, tech organizer, document pouch, hingga kebutuhan rumah tangga.

Alexandra mulai mengembangkan Gaia Weave pada 2025 setelah mengunjungi Kalimantan Selatan. Ia melihat para perajin sebenarnya telah memiliki keterampilan mengolah purun, tetapi masih menghadapi tantangan dalam mendapatkan akses pasar yang konsisten dan memberikan nilai tambah.

Dari situ, ia mencoba membangun rantai usaha dari hulu hingga hilir. Purun diproses dan dianyam oleh perajin lokal, kemudian dikembangkan menjadi produk yang dapat digunakan dalam keseharian.

“Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah. Dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membantu membangun insentif agar masyarakat tetap melihat nilai dari lanskap tempat purun tumbuh,” ujar Alexandra.

Purun sendiri tumbuh secara alami di lingkungan basah, termasuk kawasan gambut dan rawa. Karakter ini membuat pemanfaatannya memiliki kaitan dengan upaya menjaga lanskap gambut tetap basah.

Lahan gambut berperan dalam menyimpan karbon dan menjaga tata air. Ketika dikeringkan, dibakar, atau dialihfungsikan, fungsi ekologisnya dapat terganggu. Karena itu, menjaga keberadaan lanskap tersebut juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghidupan dari lingkungan sekitarnya.

Kerajinan dari putun. (Dok. Ist)
Kerajinan dari putun. (Dok. Ist)

Di titik inilah purun menawarkan peluang yang menarik. Tanaman yang tumbuh di lahan basah dapat menjadi sumber material sekaligus sumber penghasilan ketika diolah dan dipasarkan dengan nilai yang lebih tinggi.

Saat ini, Gaia Weave bermitra dengan 126 perajin di 15 desa di Kalimantan Selatan. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 6.000 unit per bulan, dengan produk yang telah tersedia di lebih dari 100 gerai ritel.

baca juga

Dampaknya juga dirasakan para perajin. Kemitraan tersebut disebut membantu meningkatkan pendapatan sekitar 100–150 persen, dari sebelumnya Rp1 juta–Rp1,5 juta menjadi sekitar Rp2,7 juta–Rp3 juta per bulan.

Bagi sebagian perajin yang juga bekerja sebagai petani, menganyam purun dapat dilakukan dari rumah sebagai sumber pendapatan tambahan.

“Ekonomi sirkular bukan hanya tentang material yang dapat digunakan kembali atau terurai. Yang tidak kalah penting adalah memastikan orang-orang dalam rantai pasok mendapatkan manfaat yang adil,” kata Alexandra.

Dari sehelai rumput yang tumbuh di lahan basah, cerita purun akhirnya berkembang menjadi lebih dari sekadar kerajinan. Ada keterampilan yang dipertahankan, penghasilan yang bertambah, dan upaya untuk membuat masyarakat melihat kembali nilai dari alam di sekitar mereka.

Gaia Weave menargetkan dapat bermitra dengan lebih dari 1.000 perajin pada 2030, sekaligus memperluas pasar hingga ekspor. Alexandra berharap langkah tersebut dapat menunjukkan bahwa produk sehari-hari pun bisa menjadi bagian dari solusi ketika material, desain, dan rantai pasok dibangun dengan mempertimbangkan manusia dan lingkungan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Luas Karhutla Indonesia Capai 202 Ribu Hektare hingga Juli 2026

Luas Karhutla Indonesia Capai 202 Ribu Hektare hingga Juli 2026

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 07:05 WIB

Greenpeace Pertanyakan BPGMN: Apa Bedanya dengan BRGM yang Dibubarkan?

Greenpeace Pertanyakan BPGMN: Apa Bedanya dengan BRGM yang Dibubarkan?

News | Senin, 28 September 2026 | 13:21 WIB

Greenpeace: BPGMN Akan Sia-sia Tanpa Komitmen Lindungi Gambut

Greenpeace: BPGMN Akan Sia-sia Tanpa Komitmen Lindungi Gambut

News | Senin, 28 September 2026 | 11:41 WIB

Terkini

F1 Sepang, Transportasi Jadi Masalah: Antrean Bus Bak Film Zombie, Penonton Jalan Kaki 9 Km

F1 Sepang, Transportasi Jadi Masalah: Antrean Bus Bak Film Zombie, Penonton Jalan Kaki 9 Km

News | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:05 WIB

Bukan Sekadar Glowing, Skin Longevity Ajak Kenali Kesehatan Kulit Lebih Dalam

Bukan Sekadar Glowing, Skin Longevity Ajak Kenali Kesehatan Kulit Lebih Dalam

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Dari Ide Bisnis Turun ke Lapak, Begini Cara Mahasiswa Belajar Menjadi Entrepreneur

Dari Ide Bisnis Turun ke Lapak, Begini Cara Mahasiswa Belajar Menjadi Entrepreneur

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:38 WIB

Bukan Nekat! Emil Audero Bongkar Alasan Berani Ikut Menyerang saat Indonesia Hancurkan Bangladesh

Bukan Nekat! Emil Audero Bongkar Alasan Berani Ikut Menyerang saat Indonesia Hancurkan Bangladesh

Bola | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:35 WIB

Studi: Cara Orang Bepergian Kini Makin Personal, Pilihan Moda Transportasi Tak Lagi Seragam

Studi: Cara Orang Bepergian Kini Makin Personal, Pilihan Moda Transportasi Tak Lagi Seragam

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:20 WIB

Persis Solo Tumbang di Manahan, Ricky Nelson: Saya Pribadi Bertanggung Jawab

Persis Solo Tumbang di Manahan, Ricky Nelson: Saya Pribadi Bertanggung Jawab

Surakarta | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:20 WIB

Untung Besar dalam Waktu Singkat, OJK Minta Mahasiswa Waspadai Modus Investasi Bodong

Untung Besar dalam Waktu Singkat, OJK Minta Mahasiswa Waspadai Modus Investasi Bodong

Bisnis | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:05 WIB

Kirim 63 Duta Muda, Indonesia Siap Bersaing Lawan China dan Singapura di IMSO ke-23

Kirim 63 Duta Muda, Indonesia Siap Bersaing Lawan China dan Singapura di IMSO ke-23

Jabar | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:01 WIB

Dukung Malaysia, Artis Ini Kena Serang Netizen Indonesia: Apa Saya Harus Ganti Kewarganegaraan?

Dukung Malaysia, Artis Ini Kena Serang Netizen Indonesia: Apa Saya Harus Ganti Kewarganegaraan?

Entertainment | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Sedang Ibadah Umrah, Pelantikan Irjen Dadang Hartanto Sebagai Kapolda Metro Jaya Ditunda

Sedang Ibadah Umrah, Pelantikan Irjen Dadang Hartanto Sebagai Kapolda Metro Jaya Ditunda

News | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 21:55 WIB

×