-
Data AFC mengonfirmasi kompetisi Liga Indonesia memiliki tingkat persaingan tertinggi di Asia Tenggara.
-
Rata-rata gaji pemain asing di Indonesia kini menyamai bahkan melampaui Liga Thailand.
-
Populasi penduduk yang melimpah menjadikan Indonesia target utama investasi brand-brand komersial dunia.
Suara.com - Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, mengungkap alasan Liga Indonesia mulai semakin menarik perhatian sponsor hingga pemain asing dari luar negeri.
Menurut Sadikin, salah satu daya tarik utama kompetisi sepak bola Indonesia adalah tingkat persaingan yang dinilai sangat tinggi dibandingkan liga-liga lain di Asia Tenggara.
Ia menyebut penilaian tersebut bukan sekadar klaim dari pihak I.League. Berdasarkan data Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Liga Indonesia memiliki competitiveness level tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

"Kalau kita melihat competitiveness level kita, biarpun Persib juara tiga kali berturut-turut, tetapi pada saat Persib mau juara, itu ada kompetitif yang cukup tinggi, apalagi tahun lalu sampai minggu terakhir," kata Sadikin dalam acara diskusi PSSI Pers.
Sadikin kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan kompetisi di Malaysia. Ia menilai dominasi Johor Darul Ta'zim (JDT) dalam perebutan gelar selama lebih dari satu dekade membuat persaingan di negara tersebut berbeda dengan Indonesia.
"Tetapi, kalau kita bandingkan Malaysia, Malaysia itu yang namanya JDT sudah berapa tahun, lebih dari sepuluh tahun juara berturut-turut. Sebelas kali juara, ada persaingan tidak di situ? Begitulah cara penilaiannya," jelasnya.
Hal serupa juga ia soroti ketika membahas kompetisi di Thailand. Menurut Sadikin, persaingan perebutan gelar di Negeri Gajah Putih dalam satu dekade terakhir lebih banyak berkutat pada sejumlah klub tertentu.
"Di Thailand, kalau tidak salah empat tim, Buriram United, Port FC, Bangkok United, sama satu lagi, sepuluh tahun yang bersaing cuma itu saja. Sedangkan kita di Indonesia ini, kalau dilihat competitiveness level-nya tinggi," kata Sadikin.
Tingginya tingkat persaingan tersebut, lanjut Sadikin, menjadi salah satu faktor yang mulai diperhatikan oleh sponsor. Ia menyebut perubahan persepsi terhadap Liga Indonesia semakin terasa dalam dua tahun terakhir.
"Di situlah sebenarnya sponsor melihat, 'Wah, Indonesia ini competitiveness level-nya tinggi', dan itu datang dari AFC, bukan dari kami, data itu dari AFC," imbuhnya.
Bukan hanya sponsor, perkembangan tersebut juga disebut mulai berdampak terhadap minat pemain asing. Sadikin mengatakan sejumlah pemain yang sebelumnya berada di level atas mulai mempertimbangkan Liga Indonesia sebagai salah satu tujuan karier.
"Buktinya banyak sekarang, banyak dibilang pemain-pemain yang main di sini ter-tier, dulunya, ya. Sekarang second tier atau first tier saja sudah ada yang melihat," ucapnya.
Selain persaingan kompetisi, Sadikin mengungkap perkembangan lain yang menunjukkan meningkatnya daya tarik Liga Indonesia.
Ia mengatakan rata-rata gaji pemain asing yang bermain di Indonesia kini sudah berada di level yang setara dengan Liga Thailand. Bahkan, menurut data I.League, angkanya berpotensi lebih tinggi.
"Kalau kita melihat average salary kita di sini, pemain asing itu sudah 'masuk', kita sudah setara sama Thailand. Kita mungkin lebih tinggi dari Thailand. Nah, ini menandakan bahwa pemain kita sudah mulai bagus di situ," ungkap Sadikin.