-
Intelijen Ukraina membongkar perekrutan sedikitnya delapan warga Indonesia oleh militer Rusia.
-
Warga asing tergiur janji manis posisi non-tempur, namun justru dijadikan umpan meriam.
-
Keterlibatan tentara asing dipicu oleh krisis pendaftaran prajurit lokal di internal Rusia.
Suara.com - Rusia merekrut sedikitnya 8 warga negara Indonesia ke dalam pasukan tentara bayaran untuk bertempur di medan perang Ukraina. Langkah nekat Moskow ini membuktikan krisis pasukan lokal yang semakin mendalam di tengah tekanan perang yang tidak kunjung usai.
Dokumen resmi mengenai perekrutan warga Indonesia tersebut dibocorkan langsung oleh Badan Intelijen Luar Negeri Ukraina pada 27 Agustus lalu. Manuver ini dipakai Kremlin sebagai bahan propaganda untuk memamerkan seolah-olah perang mereka mendapat dukungan global.
Faktor utama masifnya rekrutmen tentara asing ini dipicu oleh merosotnya warga Rusia yang mau menandatangani kontrak militer. Gejolak sosial ekonomi serta bayang-bayang gelombang mobilisasi baru memicu ketidakpuasan publik Rusia yang makin memuncak.

“Kremlin sedang mencari umpan meriam baru di kepulauan Indonesia,” kata pernyataan resmi intelijen Ukraina, dikutip dari nv.ua.
Para rekrutan asing diiming-imangi bayaran fantastis, posisi non-tempur, kemudahan menjadi warga negara Rusia, hingga beragam tunjangan sosial. Sayangnya, mayoritas tentara asing ini tidak sadar bahwa mereka akan langsung dikirim ke garis depan pertempuran.
Skema licik ini sebelumnya telah memakan korban warga negara Nepal, Kuba, Kenya, hingga India. Setelah tiba di Rusia, para korban dikirim langsung ke medan tempur tanpa pembekalan militer yang layak hingga tewas pada minggu-minggu pertama.
Data medis terintegrasi yang bocor pada April 2025 mengungkapkan keterlibatan tentara bayaran dari minimal 48 negara di pihak Rusia. Khusus wilayah Moskow saja, lebih dari 1.500 warga asing berhasil direkrut sepanjang April 2023 hingga Mei 2024.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha pada April 2026 mengonfirmasi penahanan ratusan tentara asing hasil rekrutmen Rusia tersebut. Saat ini lebih dari 300 prajurit asing yang bertempur membela Rusia berada dalam penawanan pihak Ukraina.
Langkah Rusia memanfaatkan warga negara berkembang menunjukkan eskalasi baru dalam taktik perang asimetris kawasan. Keterlibatan warga Indonesia menambah daftar panjang implikasi global dari konflik darat terbesar di Eropa ini.