- Pasca perpecahan Yugoslavia, enam negara penerus mengembangkan jalur sepak bola masing-masing dengan prestasi tim nasional dan akademi klub yang beragam.
- Kroasia dan Serbia paling menonjol melalui klub besar seperti Dinamo Zagreb dan Crvena Zvezda yang sukses mencetak talenta internasional.
- Slovenia, Bosnia, Makedonia Utara, dan Montenegro juga berhasil melahirkan pemain kelas Eropa meskipun menghadapi keterbatasan finansial serta sumber daya klub.
Kroasia menjadi salah satu negara penerus Yugoslavia yang paling menonjol di sepak bola internasional.
Tim nasionalnya mencapai final Piala Dunia 2018 dan meraih peringkat ketiga pada edisi 1998 serta 2022.
Di level klub, Dinamo Zagreb menjadi kekuatan dominan di kompetisi domestik, bersaing dengan Hajduk Split dan Rijeka.
Dinamo juga dikenal karena akademinya yang menghasilkan banyak pemain berkarier di klub-klub besar Eropa.
Luka Modric menjadi contoh paling menonjol.
Gelandang peraih Ballon d'Or itu berkembang melalui Dinamo sebelum mencapai puncak karier bersama Real Madrid.
Selain Modric, nama Mateo Kovacic, Marcelo Brozovi, Joško Gvardiol, Dejan Lovren, dan Vedran orluka memperlihatkan luasnya kontribusi pemain yang pernah berada dalam sistem pembinaan Dinamo Zagreb.
Banyak pemain timnas Kroasia yang mencapai final Piala Dunia 2018 juga memiliki hubungan dengan akademi klub tersebut.
Dinamo turut mencatat prestasi di Eropa. Pada musim 2020/2021, mereka menyingkirkan Tottenham Hotspur dan melaju ke perempat final Liga Europa sebelum dihentikan Villarreal.
Hajduk Split juga memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan pemain. Klub asal Dalmatia itu pernah mencapai perempat final Piala Champions Eropa pada musim 1994/1995, meski langkah mereka dihentikan Ajax.
![Pemain Manchester United Nemanja Vidic (kiri) memeluk Patrice Evra dalam pertandingan Liga Premier melawan Liverpool di Old Trafford pada 13 Januari 2013. [AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/10/18/45411-nemanja-vidic-dan-patrice-evra.jpg)
Serbia: Crvena Zvezda dan Partizan Terus Menjadi Pusat Talenta
Sepak bola Serbia masih bertumpu pada dua klub besar, Crvena Zvezda dan Partizan Beograd. Keduanya melanjutkan tradisi sepak bola Yugoslavia sekaligus menjadi jalur pengembangan pemain muda menuju kompetisi luar negeri.
Crvena Zvezda kembali tampil di Liga Champions pada 2018 setelah absen selama 26 tahun. Klub tersebut juga pernah meraih kemenangan atas Liverpool, Olympiacos, dan Rangers dalam perjalanan mereka di kompetisi Eropa.
Salah satu pemain yang menjadi simbol keberhasilan pembinaan Crvena Zvezda adalah Nemanja Vidic.
Bek yang mengembangkan kariernya di Manchester United itu kemudian dikenal sebagai salah satu bek terkemuka di Eropa.
Luka Jovic dan Marko Grujic juga menjadi contoh pemain yang meniti karier melalui Crvena Zvezda sebelum berkiprah di klub-klub besar.
Jovic kemudian bermain untuk Real Madrid, sedangkan Gruji pernah memperkuat Liverpool dan Porto.
Partizan memiliki reputasi kuat dalam memberikan kesempatan kepada pemain muda. Stevan Jovetic, Adem Ljajic, Lazar Markovic, Dušan Vlahovic, dan Aleksandar Mitrovic termasuk nama-nama yang pernah melewati sistem pembinaan klub tersebut.
Vlahovic, misalnya, meninggalkan Partizan untuk melanjutkan karier di Fiorentina sebelum menjadi penyerang Juventus.
Sementara itu, Dusan Tadic dan sejumlah pemain lain yang berawal dari Vojvodina turut memperkuat kontribusi klub Serbia terhadap tim nasional.
Meski demikian, dominasi domestik tidak otomatis berarti kesuksesan berkelanjutan di Eropa.
Tantangan finansial dan kesenjangan kualitas dengan liga-liga elite tetap menjadi persoalan bagi klub Serbia.
Slovenia: Negara Kecil dengan Pemain Kelas Eropa
Slovenia membangun identitas sepak bolanya sendiri setelah Yugoslavia bubar.
Maribor menjadi klub paling menonjol, dengan sejumlah penampilan di fase grup Liga Champions yang mempertemukan mereka dengan klub-klub besar seperti Chelsea, Liverpool, dan Sevilla.
Olimpija Ljubljana juga berkembang dan pernah mencapai fase grup Liga Konferensi Eropa pada musim 2023/2024.
Namun, pengaruh Slovenia di panggung internasional tidak hanya ditentukan oleh prestasi klub.
Jan Oblak menjadi salah satu contoh keberhasilan pemain Slovenia di level tertinggi.
Setelah bermain untuk Olimpija Ljubljana dan Benfica, ia berkembang menjadi penjaga gawang penting Atlético Madrid.
Nama lain yang menonjol adalah Josip Ilicic, Samir Handanovic, dan Benjamin Sesko. Ilicic memiliki karier penting di Italia, sedangkan Handanovi pernah menjadi kapten Inter Milan.
Sesko juga menarik perhatian setelah meniti karier di sejumlah klub Eropa dan bergabung dengan Manchester United.
Kehadiran pemain-pemain tersebut memperlihatkan bahwa Slovenia mampu menghasilkan talenta berkualitas meski memiliki basis pemain yang lebih kecil dibandingkan Kroasia dan Serbia.
![Atletico Madrid Dipecundangi Bodo/Glimt, Jan Oblak Persilahkan Fans Maki-maki. [Dok. IG Atletico Madrid]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/29/81558-jan-oblak.jpg)
Bosnia dan Herzegovina: Nama Besar dari Klub dengan Sumber Daya Terbatas
Bosnia dan Herzegovina memiliki tradisi sepak bola yang kuat melalui klub-klub seperti Zeljezniar Sarajevo, Sarajevo, dan Zrinjski Mostar.
Namun, kemampuan finansial klub-klubnya relatif terbatas dibandingkan tim-tim dari liga besar Eropa.
Zeljeznicar dikenal melalui akademinya yang melahirkan sejumlah pemain penting.
Edin Dzeko menjadi nama terbesar setelah mengembangkan karier di Eropa bersama Wolfsburg, Manchester City, AS Roma, dan Inter Milan.
Deko merupakan salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola Bosnia dan Herzegovina.
Selain dirinya, nama seperti Semir Štilic, Riad Bajic, dan Amir Hadiahmetovi juga pernah berkembang melalui lingkungan sepak bola klub tersebut.
FK Sarajevo turut memiliki peran dalam pengembangan pemain, termasuk sejumlah talenta yang kemudian berkiprah di tingkat nasional maupun internasional.
Namun, klub-klub Bosnia dan Herzegovina belum mampu mempertahankan konsistensi di kompetisi Eropa.
eljezniar pernah mencapai putaran ketiga kualifikasi Liga Champions, sementara Sarajevo juga pernah melangkah hingga babak play-off Liga Europa.
Catatan tersebut menunjukkan adanya potensi, meski masih terdapat jarak dengan pencapaian klub-klub Kroasia dan Serbia.
Makedonia Utara: Vardar dan Jejak Goran Pandev
Vardar Skopje menjadi salah satu simbol utama sepak bola Makedonia Utara.
Klub tersebut memiliki sejarah sejak era Yugoslavia dan kemudian melanjutkan dominasinya di kompetisi domestik setelah negara itu merdeka.
Pencapaian terpenting Vardar dalam era modern terjadi pada musim 2017/2018 ketika mereka tampil di fase grup Liga Europa.
Vardar menjadi klub pertama dari Makedonia Utara yang mencapai fase grup kompetisi antarklub UEFA.
Di tingkat pemain, Goran Pandev menjadi sosok paling terkenal. Ia mencapai puncak karier bersama Inter Milan dan menjadi bagian dari tim yang menjuarai Liga Champions pada 2010.
Generasi berikutnya melahirkan nama seperti Elif Elmas dan Ezgjan Alioski.
Elmas berkembang melalui sejumlah klub Eropa, termasuk Fenerbahce dan Napoli, sedangkan Alioski pernah bermain di Inggris dan kompetisi lain di Eropa.
Walau belum memiliki kedalaman pemain seperti Kroasia dan Serbia, Makedonia Utara telah menunjukkan kemampuan menghasilkan pemain yang mampu bersaing di luar negeri.
Montenegro: Buducnost dan Talenta yang Menembus Eropa
Montenegro baru memiliki liga nasional sendiri setelah memisahkan diri pada 2006.
Meski demikian, negara ini mewarisi tradisi sepak bola yang lebih lama melalui klub seperti Budunost Podgorica dan Sutjeska Niksic.
Buducnost menjadi salah satu klub terkemuka di kompetisi domestik dan berperan dalam perkembangan sejumlah pemain Montenegro.
Stevan Jovetic, misalnya, memulai perjalanan sepak bolanya di Podgorica sebelum melanjutkan karier di Partizan, Fiorentina, Manchester City, Inter Milan, dan Sevilla.
Stefan Savic juga menjadi nama penting yang berkarier di klub-klub besar Eropa, termasuk Atlético Madrid.
Sementara itu, Mirko Vucinic mengawali perjalanan profesionalnya bersama Sutjeska sebelum tampil bersama klub-klub Italia seperti Juventus.
Generasi baru diwakili Nikola Krstovi, yang memulai karier di Zeta sebelum melanjutkan perjalanan melalui Crvena Zvezda, Lecce, dan Atalanta.
Namun, tim nasional Montenegro belum pernah lolos ke putaran final Piala Dunia maupun Piala Eropa.
Kondisi tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi negara dengan populasi dan basis pemain yang relatif kecil.
Siapa yang Paling Diuntungkan setelah Yugoslavia Bubar?
Jika tolok ukurnya adalah prestasi tim nasional, Kroasia memiliki catatan paling menonjol di antara enam negara penerus Yugoslavia.
Final Piala Dunia 2018 dan dua kali finis di peringkat ketiga menjadi bukti pencapaian yang sulit diabaikan.
Dalam hal pembinaan pemain, Kroasia dan Serbia juga menonjol melalui Dinamo Zagreb, Crvena Zvezda, dan Partizan.
Ketiga klub tersebut memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan pemain yang kemudian memperkuat klub-klub besar Eropa.
Slovenia menunjukkan bahwa negara dengan basis pemain lebih kecil tetap dapat menghasilkan talenta seperti Oblak dan Sesko.
Bosnia dan Herzegovina, Makedonia Utara, serta Montenegro juga memiliki pemain yang mencapai level elite, meski pencapaian klub dan tim nasional mereka menghadapi keterbatasan berbeda.