Menurut Al Alusi dalam Rûh al-Ma’âni, ungkapan ini diucapkan bukan hanya melalui lisan, tapi juga harus dari dalam hati.
2.Sabar dari hawa nafsu
Kemudian sabar dalam menghadapi dorongan hawa nafsu seperti yang Allah SWT sebutkan dalam Alquran, menciptakan manusia dengan tabiat mencintai kesenangan dan kenikmatan duniawi. Hal itu termaktub dalam surat Ali Imran ayat 14-15.
Allah SWT juga turut memberikan ujian kepada manusia tak hanya dengan penderitaan tetapi juga dengan kesenangan, firman-Nya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS Al Anbiya ayat 35).
Mengutip dari Tafsir Kementrian Agama RI, ayat tersebut menjelaskan tentang Allah SWT memberikan pernyataan secara tegas kalau setiap makhluk yang bernyawa, pasti akan merasakan kematian.
Allah SWT juga menjelaskan cobaan yang ditimpakan-Nya kepada manusia. Tak hanya berupa musibah yang kurang menyenangkan, tapi juga ada kesenangan.
Bila cobaan berupa musibah maka berujuan untuk menguji sikap dan hidup manusia. Apakah akan bersabar dan tetap bertawakal kepada Alla SWT atau tidak dari cobaan yang diberikan tersebut.
Jika cobaan berupa suatu kebaikan tujuannya adalah, menguji sikap mental manusia, apakah manusia akan bersyukur atau justru sebaliknya akan menjadi kufur.
Baca Juga: Ferdy Sambo Ajukan Permohonan Banding, Tanggapan Kapolri: Kita Lihat Saja
Firman Allah SWT dalam Alquran:
“(Dialah) Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguhhatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya?” (Q.S Al Anbiya ayat 65)
Tafsir dari Kementerian Agama RI, menyebutkan kalau ayat tersebut dimulai dengan penegasan, jika Allah SWT merupakan penguasa langit dan bumi beserta seluruh isinya.
Maka sebagai makhluk yang telah diciptakan olehnya, sudah wajib memberikan penyembahan melalui ibadah.
Perintah bersabar pada ayat tersebut diungkapkan dengan lafaz isthabir dengan shighat kata kerja perintah untuk melakukan sesuatu dengan lebih maksimal. Penggunaan partikel lâm (li) dalam ungkapan di atas mengandung pengertian keberlangsungan secara terus menerus dan permanen dalam menunaikan ibadah.
Maka tak dipungkiri jika melaksanakan sebuah ibadah perlu kesabaran. Karena dalam ibadah juga memiliki banyak tingkatan menahan diri.