SuaraCianjur.id - Ali Imron pelaku teroris bom Bali 1 yang terjadi tahun 2002 menceritakan awal terjadi bom Bali 1.
Ia mengungkap, tujuan pengeboman di Bali kala itu, hanya untuk memperingati penyerangan ke Afganistan, pasca runtuhnya Gedung WTC di Amerika Serikat.
“Bali itu tujuannya adalah karena menyerang afganistan pasca runtuhanya wtc tahun 2001,” ungkap Ali Imron, di kanal YouTube DamaliahRI, yang dikutip pada Minggu (13/111/2022).
Ternyata Bali dipilih komplotan teroris ini, karena mempunyai satu alasan. Alasan tersebut karena di Bali banyak terdapat orang Amerika dan sekutunya.
![Bom Bali [ANTARA/Genta Tenri Mawangi]](https://media.suara.com/suara-partners/cianjur/thumbs/1200x675/2022/11/13/1-bom-bali.jpg)
“Karena ingin membalas Amerika, dan bule yang paling banyak di Bali. Itu sudah dipikirkan karena di Bali ini ada bule Amerika dan sekutunya,” ungkapnya.
Ali Imron mengatakan, ia dan rekan sesamanya yang telah ditembak mati beberapa waktu lalu, punya alasan tidak memilih Kedutaan besar Amerika.
Ia meyebutkan saat itu, tidaklah memungkinkan untuk menyerang Kedubes Amerika. Pasalnya mereka menyebut keamanan di Kedubes sudah diperketat.
Pengeboman di Bali, sempat ditentang oleh Ali Imron. Pasalnya ia miliki pemahanan yang berbeda dengan rekan-rekannya yang lain.
“Saya pernah sampaikan, kalau serang Afganistan, kita serang tentaranya (Amerika) yaitu kapal perangnnya yang bisa kita songgong di Indonesia. Saya dari situ sudah bertentangan,” katanya.
Ali Imron menceritakan bom Bali 1 dipimpin oleh Imam Samudera. Rencananya bom tersebut akan diledakan pada 11 Oktober 2002. Namun karena permaslahan waktu yang dianggap kurang cukup, bom tersebut akhirnya diledakan pada 12 Oktober 2002.
“Waktu itu enggak ada perencanaan. Kalau disebut direncakan itu ngarang-ngarang saja,” ungkapnya.
Ali menyebut untuk menyeludupkan bom, ia dan teman-temannya membawa bahanmentah dari Surayaba. Seeteah itu mereka merakit bom tersebut di kawasan Denpasar.
Ada hal yang lainnya turut ditentang oleh Ali Imron. Ia mengaku tidak setuju dengan bom bunuh diri. Hal itu sempat menjadi pertentangan antara Ali Imron dan Imam Samudera yang mengharuskan ada bom bunuh diri.
“Saya, Umar Patek, Dulmatin berselisih pendapat. KIta bisa saja pakai timer (pada bom). Namun Imam Samudera menyebutkan harus ada martir karena bisa memberikan ketakutan tambahan pada (orang) yang kita anggap musuh,” pungkasnya. (*)