SuaraCianjur.id – Carut marut sepak bola Indonesia masih belum berhenti, kondisinya semakin memburuk. Dikala sepak bola negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand sudah memproyeksi prestasi skala Asia bahkan dunia, Indonesia masih berjalan di tempat. Jangankan prestasi, pengelolaan liga pun sangat amburadul. Padahal kualitas liga akan menetukan kualitas timnasnya.
Lantas apa masalahnya ? Apa yang menyebabkan sepak bola Indonesia amburadul ?
Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer dalam podcast Kasih Paham, menuturkan bahwa akar masalah dari sepak bola Indonesia adalah kualitas sumber daya manusia, dalam hal ini pengelola kompetisi, ya PSSI.
“yang jadi pengurus PSSI orangnya itu-itu aja, yang bermasalah disepak bola Indonesia. Kalau kemudian tidak dibenahi maka sampai kapanpun, siapapun yang menjadi ketua pasti akan bermasalah,” ujar Akmal.
Kemudian Anton Sanjoyo, wartawan sepak bola senior dalam podcast yang sama, juga menuturkan bahwa PSSI sangat bermasalah. Baginya siapapun ketuanya, masalah utamanya adalah berada di Exco PSSI yang dipilih melalui voters.
“sekarang kalaupun ada dua calon yang paling prominen, apakah mereka mampu mengendalikan Exco yang notebene dipilih melalui voters?,” ujar Anton.
Anton melanjutkan, baginya Exco yang terpilih adalah orang-orang yang tidak punya kapabillitas mengurus sepak bola serta tidak peduli terhadap kemajuan sepak bola indonesia.
“adakah orang-orang yang ada di Exco yang peduli terhadap pembinaan usia muda?” ujar anton meragukan.
Masalah sepak bola Indonesia sudah sampai titik nadir. Jual beli suara, pesan memesan juara, menjadi hal yang lumrah, pelakunya adalah orang-orang di dalam PSSI. Bahkan Akmal Marhali dengan jelas menyebut nama siapa saja yang terlibat dalam hal ini.
Baca Juga: Pesan Ketum PSSI Mochamad Iriawan untuk Timnas Indonesia, Jadi Kode Perpisahan?
“saya jamin Karo United gak bakal promosi ke Liga 1, karena udah ada yang pesan. Yang mainin itu semua adalah orang-orang di dalam PSSI, dan saya bisa sebut namanya, salah satunya adalah Yunus Nusi, dia yang memainkan itu semua,” ujar Akmal Marhali.
“kalau mau jadi tuan rumah biayanya 300 juta, ada yang mainin wasit, ada Akri, Alwi dan Andes, ini yang atur semua wasit, yang tanda tangan Sekjen dan Wakil Ketua Umum PSSI, Iwan Budianto,” tambah Akmal.
Saat ditanya terkait dengan tuduhan serius ini, dirinya menjelaskan bahwa dia memiliki datanya.
“saya punya datanya, kalau gak percaya komplen aja, pencemaran nama baik,saya punya buktinya,”
Bagi Akmal, generasi pengurus PSSI ini harus dipotong. Kalua tidak, sepak bola Indonesia tidak akan maju. (*)