Deli - Siapa yang tak kenal dengan Danau Toba. Barangkali tak banyak yang tahu bahwa dari satu desa di pinggir danau terbesar di Indonesia, sekitar 10 tahun silam pernah menjadi pemasok ikan pora-pora ke Padang, Sumatera Barat untuk diolah menjadi makanan ringan dengan berbagai rasa dalam jumlah puluhan ton setiap bulannya.
Desa itu bernama Tipang, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan. Di sana dulunya ada seorang Janter Situmorang. Dia adalah pemilik bagan sekaligus pengumpul ikan pora-pora. Setidaknya tiga tahun dia hidup dari ikan pora-pora. Dia mengaku 2 hari sekali mengirim ikan pora-pora ke Padang, sebanyak 1,7 ton. Jika dikalikan dalam sebulan, maka setidaknya ada 25,5 ton.
Ikan pora-pora itu diangkut dengan mobil boks dengan tujuan pengiriman ikan pora-pora itu adalah Ombilin dan Malalo, di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Lokasinya tak jauh dari Danau Singkarak. Di sana, ikan pora-pora itu disortir lalu diolah oleh tangan-tangan yang fasih memasak ikan bilis di danau yang ada di Kabupaten Tanah Datar dan Solok itu.
Dulunya, ikan pora-pora secara pukul rata dihargai sebesar Rp 3000/kg. Andai saja Janter bisa memilah berdasarkan ukuran, tentunya akan lebih menguntungkan. Untuk ikan pora-pora ukuran kecil 4 - 5 cm, sedang 8 cm dan besar 10 cm. Namun nyatanya dia tak berdaya ketika harga naik turun tanpa dia ketahui sebabnya.
Janter yang pernah menjadi supir angkot di Jakarta itu menyebutkan bahwa sebagian besar ikan pora-pora dikirim ke Sumatera Barat. Hanya Dalam jumlah yang jauh lebih sedikit itu dipasarkan di lokal oleh beberapa pedagang pengecer (along-along). Namun begitu, Janter pun menegaskan bukan dirinya saja pengumpul ikan pora-pora.
Pengambilan ikan yang juga dikenal sebagai ikan megawati itu juga tersebar di 6 kabupaten lain di sekeliling Danau Toba seperti Simalungun, Samosir, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Dairi, dan Karo. Tak terhitung jumlahnya. Sebut saja di antaranya di Kecamatan Ajibata, dan Kecamatan Lumban Julu, Parapat.
Pada saat itu, suasana penimbangan ikan pora-pora terlihat riuh. Tak henti-hentinya dia mencatat hasil timbangan. Ember-ember besar di perahu milik Rodius Sihombing diturunkan lalu berpindah ke dalam boks. Ikan pora-pora itu diambil pada malam dan pagi hari di bagan yang dilengkapi dengan beberapa lampu terang untuk menarik perhatian ikan pora-pora agar masuk jaring.
Pada bulan Oktober - Februari, produksi ikan pora-pora melimpah. Dari 1 bagan bisa menghasilkan 100 - 300 kg/hari. Namun banyaknya produksi ikan pora-pora saat itu, paling banyak dibawa keluar. Lebih menyedihkan lagi, di Sumatera Barat ikan pora-pora itu berubah nama menjadi ikan bilih atau ikan bilis.
Pemilik Usaha Bunda Lembang Saiyo. di Desa Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Tanah Datar, Elvirita saat dihubungi waktu itu mengaku sudah sejak 2008 memulai usaha. Hasil olahannya dikirimkan ke sejumlah daerah mulai dari Pekan Baru, Jambi, Bengkulu, Batam dan Jakarta. Dia mengakui sulit membedakan antara ikan pora-pora dan ikan bilih.
Namun, itu sudah berlalu. Saat berwisata di Danau Toba, menu ikan pora-pora sulit dijumpai. Padahal dulu hampir tiap rumah makan menyediakan menu ikan pora-pora. Kini ikan itu menjadi kenangan. Tidak ada lagi pengambilan ikan pora-pora pada dinihari ataupun pagi hari sambil menikmati keindahan danau.
Entah bagaimana ikan pora-pora perlahan dan pasti kemudian menghilang dari Danau Toba. Entah bagaimana ikan pora-pora itu dapat dikembangkan lagi. Yang pasti, ikan pora-pora pernah menjadi sumber penghidupan bagi warga di sekitar Danau Toba.