Suara Denpasar - Untuk menaikkan citra Polri yang sedang berada di titik nadir. Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hubinter) Mabes Polri Irjen Krishna Murti juga ikut andil guna mengangkat citra korps baju cokelat di mata publik.
Salah satunya dengan promosi penggunaan pakaian sehari-hari anggota Polri yang merupakan produk dalam negeri.
Tak hanya saat bertugas di dalam negeri. Penggunaan produk dalam negeri juga dikenakan saat menjalankan tugas misi perdamaian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Seperti saat bertugas dalam misi perdamaian PBB ke Sidan, Mali, dan negara lainnya," kata Krishna Murti.
Mantan atasan Irjen Ferdy Sambo itu mengungkapkan kini dari ujung rambut sampai dengan kaki anggota Polri menggunakan produk yang berasal dari perusahaan atau UMKM di Indonesia.
Hal ini juga sebagai bentuk kepedulian Polri guna meningkatkan daya saing perusahaan di dalam negeri.
Sebelumnya, Presiden Jokowi pada Maret 2022 begitu geram mengetahui bahwa seragam TNI/Polri masih impor.
Padahal, produk-produk tersebut bisa dibuat di Indonesia dan kualitasnya juga tidak kalah saing.
"Apa-apaan ini? Dipikir kita bukan negara yang maju, buat CCTV saja beli impor. Seragam dan sepatu tentara dan polisi beli dari luar. Kita ini produksi di mana-mana bisa," kata Jokowi geram.
Baca Juga: Sudah Mapan di Indonesia, Mengapa Pandji Pragiwaksono Pilih Jadi TKI di Amerika Serikat?
Dia juga meminta bahwa seluruh kementerian dan institusi membelanjakan kebutuhan barang 70 persen di dalam negeri.
Demikian, Mabes Polri menjelaskan bahwa untuk pengadaan barang sudah mencapai 98 persen menggunakan produk dalam negeri.
Hanya dua persen belanja barang Polri adalah produk impor karena membutuhkan standar tinggi. Seperti peralatan penjinak bom, baju bom, serta kebutuhan Unit Kimia, Biologi, dan Radioaktif Polri. ***