Suara Denpasar – Anggota DPR RI, Dedi Mulyadi alias Kang Dedi takjub dengan kebaikan hati seorang sopir angkot bernama Daman. Sopir angkot yang memiliki kelainan pada badannya, yakni bungkuk itu rela tak dibayar oleh penumpang.
Kepada Kang Dedi, Daman mengaku hampir setiap hari sepi penumpang. Ramai kalau pagi dan siang. Yakni saat siswa berangkat dan pulang sekolah.
Walau dia dapat penghasilan dari bayaran penumpang, Daman mengaku tidak semua penumpang dia tariki ongkos. Kadang dia tak meminta ongkos kepada orang tertentu.
“Kadang kasihan, Pak Haji,” kata Daman yang jadi kernet kepada Kang Dedi Mulyadi nyopiri angkot.
Perlu diketahui Dedi Mulyadi bertemu Daman ketika sedang berada di tukang tambal ban pinggir jalan lantaran ban angkotnya bocor. Kang Dedi keluar dari mobil Toyota Alphard-nya, kemudian minta menyopiri angkot tersebut dan membelikannya BBM di SPBU.
“Jadi yang tidak diminta (ongkos) itu (penumpang) yang gimana?” tanya Kang Dedi.
“Yang ibu-ibu, kelihatan tua, kelihatan susah,” katanya.
“Kamu keren amat?” kata Kang Dedi.
“Kasihan, Pak Haji. Toh nanti juga ada rezekinya, Pak Haji. Kita berharap doanya saja,” terang Daman.
Daman mengaku sudah menjadi sopir angkot sejak 1982. Sampai saat ini pun dia menarik angkot demi kebutuhan hidup keluarga. Meski diakui kadang sepi. Sedangkan dia harus membayar setoran ke bos pemilik angkot Ro100 ribu per hari.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Kang Dedi membawa angkot sampai di rumah Maula Akbar di sebuah perumahan. Daman pun diajak Kang Dedi masuk ke rumah anak sulungnya yang dulunya tipe 21 yang ditempati sejak Maula Akbar masih SMP dan tinggal terpisah dari Kang Dedi yang kala itu sudah jadi bupati Purwakarta.
“Sekarang mau ke mana?” tanya Kang Dedi sambil membuka dompet.
“Mau narik. Kalau dikasih bapak mah pulang,” ujar Daman.
“Kalau nggak dikasih?” kata Kang Dedi sambil menaruh lagi dompetnya.
Daman tampak bingung dan hanya senyam-senyum.
“Kan tadi duitnya udah dikasih sama orang. Dikasih ke tukang asongan. Terus udah isi bensin full,” kata Kang Dedi.
Diketahui, dalam perjalanan, memang sempat mampir di SPBU untuk mengisi BBM ke angkot sebesar Rp300 ribu. Kang Dedi yang membayari. Selain itu, uang hasil narik Daman sekitar Rp90 ribu diberikan seluruhnya ke pedagang asongan ditambah uang dari Kang Dedi beberapa pecahan ratusan ribu,
“Nggak diganti, ya, biarin. Ntar kan ada gantinya,” kata Daman.
Dia yakin rezeki bisa datang dari mana saja. Dia pun mengaku ikhlas bila Kang Dedi tidak memberi uang lagi.
“Sekarang saya nggak mau duit. Ridho, ridho,” akunya.
“Bener nih, bener?” tanya Kang Dedi, “hebat.”
“Rugi dong hari ini udah kehilangan duit?” tanya Dedi Mulyadi.
Daman mengakui rugi. Tapi, dia tidak menyesal dan tak jadi masalah. Setelah itu, Daman pun pamitan pulang tanpa dapat bayaran lagi dari Kang Dedi selain BBM tadi.
“Ini orang-orang hebat itu seringkali muncul pembelajaran penting itu dari rakyat-rakyat yang susah. Dia sudah kesusahan, kekurangan biaya hidup, tetapi tidak pernah mengeluh dan tetap mensyukuri dan tidak pernah takut kehilangan rezeki. Ini keren banget,” Kang Dedi.
Namun, ketika mesin angkot sudah bersuara, Kang Dedi segera meraih dompet dan menyusul Daman. Dia memberikan beberapa lembar uang pecahan seratusan ribu.
“Buat orang baik. Pulang ke rumah. Istirahat,” kata Daman sambil menggenggam uang pemberian Kang Dedi dan mengucap terima kasih. (*)