“Waduh bahaya ini. Aduh pernyataannya berbahaya, kalau dagangnya jujur nggak laku,” sergah Kang Dedi.
Kang Dedi Mulyadi pun membantah pernyataan si pedagang. Dia justru mengajarkan lebih baik berdagang itu jujur. Nanas manis bilang manis, kalau nanasnya asem katakan itu asem. Sehingga pembeli tidak tertipu. Sebab, kalau sekali merasa tertipu, pembeli tidak akan datang lagi, bahkan bisa cerita ke teman atau tetangganya untuk tidak membeli nanas di tempat itu lagi.
Sang pedagang mengaku melakukan itu karena dia juga dikejar utang. Sehingag harus menipu pembeli. Kang Dedi menyarankan agar mulai berdagang secara jujur. Kang Dedi mengajak pedagang bersumpah akan berlaku jujur. Kemudian Kang Dedi memberikan uang sekitar Rp1,2 juta, untuk membayar utang si pedagang kepada pihak lain.
“Ya, saya nggak bakalan bohong. Kalau yang asem (saya katakan) asem, kalau yang manis (saya katakan) manis,” kata si pedagang.
“Tapi ibu nggak boleh bohong lagi. Bener nih? Kalau ibu bohong lagi duit saya nggak akan berkah,” ujar Kang Dedi Mulyadi.
Si pedagang pun berjanji. Dia mengucapkan terima kasih atas pemberian mantan bupati Purwakarta dua periode ini. selanjutnya Kang Dedi meninggalkan si pedagang dan berjanji akan mengecek lagi apakah sudah tidak menipu pembeli lagi dalam berjualan nanas. (*)