Suara Denpasar - Gugatan cerai yang dilayangkan Anne Ratna Mustika kepada Dedi Mulyadi masih dalam proses persidangan di Pengadilan Agama Kabupaten Purwakarta dengan tahapan mediasi.
Ambu Anne yang kini menjabat sebagai Bupati Purwakarta berharap cerai dengan Kang Dedi, anggota DPR RI dari Partai Golkar.
Jarang berkomentar, Kang Dedi belakangan ini memberikan keterangan kepada media dengan bahasa sindiran tajam pada Ambu Anne.
Dia bahkan mengulas adanya pekerja se*s komersial (PSK) berusia 21 tahun yang seharusnya tidak sampai ada di Kabupaten Purwakarta.
Kang Dedi juga menyebutkan ada ribuan rakyat di Kabupaten Purwakarta yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dampaknya, istri dari korban PHK itu harus berjualan kopi di pinggir-pinggir jalan karena kondisi ekonomi yang memprihatinkan.
Di sisi lain, Kang Dedi Mulyadi juga menyinggung kualitas Ambu Anne sebagai pemimpin selama menjabat sebagai Bupati Purwakarta 1 periode ini.
Di saat Bupati Ambu Anne menggugat cerai, Kang Dedi mengaku tengah menyiapkan aset untuk masa depan anak-anaknya agar bisa hidup lebih baik.
"Di situlah hidup bersama saling membagi. Urusan beras (kebutuhan makan Bupati) sudah ditanggung negara, urusan lain saya nanggung termasuk menyiapkan aset-aset anak saya untuk masa depan yang harus kita pikirkan hari ini sebagai pemimpin," paparn Kang Dedi dikutip dari Instagram @insta_julid, Sabtu (3/12/2022).
Baca Juga: Legowo! Staf Kang Dedi Mulyadi Sudah Tak Boleh Ngantor di Gedung Kembar, Efek Gugatan Ambu Anne?
Menurutnya, pemimpin seharusnya tidak fokus berpikir pada urusan pribadinya sendiri melainkan bagaimana tenaga dan pikiran dicurahkan untuk kepentingan rakyat.
"Bukan lagi ngurusin dapur kita karena udah lebih. Yang harus kita pikirkan hari ini itu ada warga Purwakarta yang dirumahkan, jumlah ribuan," bebernya.
"Istri-istrinya sampai jualan kopi di pinggir jalan. Hari ini orang umur 21 tahun jadi PSK hanya untuk biaya hidup. Yang harus kita pikirkan adalah itu," sambung Kang Dedi.
Dia pun menyindir keras dan tajam pada Ambu Anne tentang kepemimpinannya sebagai Bupati Purwakarta, namun masih sempat menggugat cerai dirinya.
"Karena pemimpin itu sudah tidak boleh lagi memikirkan dirinya. Pemimpin itu ditugaskan untuk memikirkan orang lain. Itu bedanya pemimpin dengan rakyat," sergah Kang Dedi Mulyadi.(*)