“Saya baru tahu bahwa pendidikan seperti ini adalah pendidikan penghayatan,” terangnya.
Purwanto pun menyatakan salut kepada Yayuk dan Salma. Sang ibu mau mendidik anaknya sejak dini ikut bekerja dengannya. Sedangkan sang anak belajar memahami pekerjaan ibunya.
“Saya terangin juga ke anak itu, saya salut pada Anda. Saya salut pada ibu Anda. Ibu Anda mau mendidik anak, mau mendidik Anda seperti ini. Anda cantik, Anda kalau mau ngedandan terus jadi model juga pasti Anda bisa terpilih karena cantik seperti artis Korea,” paparnya.
Dia pun berpesan ke para guru penggerak untuk merancang proses pembiasaan dalam kerangka mewujudkan profil pelajar Pancasila. Yakni merancang setiap orang tua itu harus membawa pikiran anak-anaknya masuk ke dalam kehidupan keluarganya.
Dalam teori pendidikan karakter, kata dia, yang namanya nasib itu konon diubah dengan cara mengubah karakter. Karakter diubah dari kepribadian. Kepribadian diubah melalui kebiasaan (habbit). Untuk mengubah habbit, itu perilakunya diubah. Nah, untuk mengubah perilaku, ubah pikirannya.
"Untuk mengubah pikiran itu ubah dulu perasaannya," pungkasnya. (*)