Setelah Kang Dedi melakukan itu, mata sebagian netizen terbuka. Sebagian mulai bersimpati kepada Yessy. Hanya sedikit yang menghujatnya. Setidaknya di kolom komentar Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Tidak berhenti di sana, Kang Dedi mengundang kepala desa tempat Yessy bekerja. Dia menyarankan ke Kades agar Yessy dipanggil apakah masih mau bekerja di kantor desa atau mau berhenti.
Yessi dalam tayangan sebelumnya memang masih bimbang. Dia tidak masuk ke kantor desa setelah masalah bantal nikah. Apalagi, ayah Yessy adalah salah satu Kaur (kepala urusan) di desa.
Kang Dedi juga mengajak Yessy bertemu seorang pengusaha ikan pindang yang hanya lulusan SD. Dia ingin membuka mata bahwa pendidikan rendah kalau dia ulet bisa sukses juga.
Sebagian lagi hanya nyinyir atas tayangan Dedi Mulyadi dengan Yessy. Menganggap tayangan Yessy dan Ryan Dono tak berfaedah. Kang Dedi membantah tayangannya tidak berfaedah. Justru, dia menyatakan kalau ada orang bersalah apakah harus dijauhi.
“Sekarang saya ini jujur aja banyak dikomplain oleh para penggemar karena dianggap ngapain melahirkan konten yang tidak berfaedah,” kata Kang Dedi di dalam mobil bersama Yessy.
“Nah saya ini orang yang dari dulu selalu, ‘kamu ini kalau nganggap orang salah terus kamu harus jauhi orang itu? terus kamu harus benci? nggak bisa! Kalau nganggap orang itu salah, maka kamu harus bisa merubah kesalahannya menjadi kebaikan,” paparnya.
Kang Dedi menyatakan, manusia yang sempurna itu bukan orang yang tidak berbuat salah. Setiap orang pasti berbuat salah. Tapi orang yang mau mengubah kesalahannya itu prinsip-prinsip penting.
“Dan paling utama adalah orang yang menyadari kesalahan, dan yang paling berbahaya manusia adalah orang tidak menyadari kesalahannya dan menganggap kesalahannya sebuah kebenaran,” paparnya.
Kang Dedi Mulyadi sendiri sudah sejak awal selalu memposisikan diri dalam tayangan-tayangannya di Youtube sebagai problem solver. Pemecah masalah. Masalah apa saja. Dari masalah negara, sampai masalah pengemis yang pura-pura cacat, dari soal hutan yang dibabat, sampai peredaran miras di desa-desa.
Dari soal tambang yang mengotori sungai, hingga pelacuran yang marak. Segalanya. Semuanya. Selagi dia bisa menjangkau dan mencarikan jalan keluarnya. sebagai problem solver dari persoalan negara hingga warga. (*)