“Jadi ada tukang duren mau nganterin duren. Durennya dicegat. Dimakan sama dia. Durennya jatah saya. Ayo, kumaha ceritana? (bagaimana ceritanya),” tanya Kang Dedi lagi.
Ternyata Egi tak kunjung menjawab. Dia fokus dengan makannya. Pipinya kembung berisi makanan. Kang Dedi bertanya berkali-kali, tak kunjung ada jawaban.
Kang Dedi pun akhirnya menanyakan apakah perbuatan itu bagus atau tidak. Egi menggeleng.
“Bagus atau jelek?” tanya Kang Dedi.
“Jelek,” jawabnya.
“Sopan atau gak?” tanya Kang Dedi lagi.
“Nggak sopan,” jawab Egi.
“Kalau ada duren dianterin buat Bapak, kamu harusnya gimana?” tanya Kang Dedi Mulyadi.
Lagi-lagi Egi tak bisa menjawab. Mulutnya seperti terkunci. Kang Dedi sampai berkali-kali menanyakan hal yang sama seperti di atas. Egi tidak juga memberi alasan mengapa dia memakan duren milik Kang Dedi.
“Harusnya gimana?” tanya Kang Dedi mengulang pertanyaannya berkali-kali.
Egi tetap tak berani menjawab. Akhirnya Kang Dedi nyerah. Dia pun menjelaskan kepada Egi bahwa harusnya duren itu disimpan, nanti nunggu Kang Dedi Mulyadi datang.
“Pelanggaran apa gak, Om,” kata Kang Dedi ke Zamzam, kameramennya.
“Pelanggaran, Pak. Pelanggaran berat,” kata Zamzam.
“Di sini ada yang berani gak duren buat bapak dimakan lebih dulu, pas bapak mau makan duren, durennya gak ada udah dimakan sama Egi,” tanya Kang Dedi.
“Hanya Egi aja yang berani, Pak,” kata Zamzam.
“Hahaha, benar, Pak, benar, Pak,” aku Egi tertawa ngakak.
Kang Dedi pun menanyakan lagi ke Delvi, anak asuhnya yang lain. Delvi menyatakan tidak ada yang berani makan duren jatah Kang Dedi Mulyadi.
Egi tak berani menjawab. Dia terus menyelesaikan makannya. Setelah Egi selesai makan, Kang Dedi menyuruhkan mencuci piring sendiri. Kang Dedi mendidik semua orang di rumah untuk langsung mencuci piring sendiri bila selesai makan.
“Kamu nanti nggak boleh lagi, ya, kalau orang antar makanan ke bapak, pesanan Bapak anterin, nanti persoalan dibagi atau tidak setelah ada Bapak. Jangan ada makanan dikirim ke bapak disikat duluan, sendiri lagi nyikatnya. Nggak boleh itu, ya, itu tidak bisa menjaga kehormatan Bapak. Nanti nggak boleh, ya!” papar Kang Dedi mendidik.
Apa reaksi Egi? Bukan Egi namanya kalau setelah dituturi begitu kemudian bersedih atau menangis. Dasar Egi, dia tetap tertawa kecil. Tetap riang.
Sejumlah netizen pun mengacungi jempol untuk Kang Dedi Mulyadi yang memiliki kesabaran tingkat dewa dalam menghadapi Egi si anak hiperaktif ini.
"MasyaAllah Pak Haji Dedi menghadapi Egi selalu baik dan selalu sabar. Semoga Egi belajar terus belajar sedikit-sedikit lama-lama bisa mengerti," tulis @enymaharanyenyeny8720
"Senakal apa pun kelakuan Egi, Kang Dedi selalu sabar menghadapinya. Saya suka banget cara mendidiknya.
Semoga Egi makin dewasa lagi," kata @yadiardiansyah4540
"Masha Allah serasa bukan manusia sabarnya luar biasa tingkat Dewa. Egi andai saja bisa berubah," tulis @bossmuda9600. (*)