Suara Denpasar – Anggota DPR RI, Dedi Mulyadi terkenal tegas. Omongannya banyak dipatuhi orang dan tidak mudah dibantah. Namun, menghadapi bocah bernama Egiansyah alias Egi, anak yatim asal Bogor yang dikenal hiperaktif, Kang Dedi harus bisa menahan emosi dan memiliki kesabaran tingkat dewa.
Bagaimana tidak, Egi, bocah berusia sekitar 11 tahun yang pernah viral karena korban bully (perundungan) ini memang hiperaktif. Pikirannya kerap meloncat-loncat tak terduga. Kadang seenaknya sendiri.
Saat libur semester I atau ganjil, Kang Dedi Mulyadi menjemput sejumlah anak asuhnya ke pondok pesantren di Desa Cireok, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Termasuk Egi.
Yang mengagetkan, dia sempat membentak Kang Dedi soal gugatan cerai. Dia menanyakan dengan intonasi tinggi apakah Kang Dedi cerai. Saat itu Kang Dedi dibuat tertawa dan memintanya jangan dengar gosip.
Egi bersama Caswara dan Amin, ketiga anak asuhnya pun dibawa ke Lembur Pakuan, Subang, kampung halaman Kang Dedi Mulyadi. Dari tayangan di kanal Youtube Lembur Pakuan, tampak Kang Dedi ke dapur dan melihat Egi sedang makan.
“Kunaon, Egi?” tanya Kang Dedi.
“Makan, Pak,” jawab Egi yang sedang makan di lantai dapur.
“Kenapa makan sendiri?” tanyanya lagi.
“Aa Ajat udah, Egi belum,” jawabnya.
Baca Juga: Bukan Anak Kandung, Cuma Bocah Ini yang Berani Bentak Kang Dedi Mulyadi: Bapak Cerai Ya?!
Kang Dedi pun menanyakan mengapa Egi mencegat tukang duren. Kemudian duren yang mestinya untuk Kang Dedi Mulyadi malah dimakan Egi. Bahkan, satu buah duren ludes dimakan Egi sendiri.
“Pertanyaannya cuma satu, kenapa kemarin tukang duren dicegat?” tanya Kang Dedi.
Ditanya begitu, Egi bertanya apa. Ketika dijelaskan lagi kenapa mencegat tukang duren, padahal duren itu untuk ayah asuhnya itu, tak menjawab.
Kang Dedi pun menanyakan lagi dengan panjang lebar, Egi tak bisa menjawab. Dia tampak tak berani menjawab, padahal Egi biasanya pandai bicara. Dia tampak kehabisan kata-kata. Tampak di wajahnya seperti ada perasaan bersalah. Kemudian tertawa kecil.
"Ceurik (tertawa)," kata Kang Dedi sambil tersenyum tak bisa melampiaskan amarahnya.
Kang Dedi Mulyadi bertanya lagi ke Egi yang tak kunjung memberi alasan mengapa durennya dimakan.
“Jadi ada tukang duren mau nganterin duren. Durennya dicegat. Dimakan sama dia. Durennya jatah saya. Ayo, kumaha ceritana? (bagaimana ceritanya),” tanya Kang Dedi lagi.
Ternyata Egi tak kunjung menjawab. Dia fokus dengan makannya. Pipinya kembung berisi makanan. Kang Dedi bertanya berkali-kali, tak kunjung ada jawaban.
Kang Dedi pun akhirnya menanyakan apakah perbuatan itu bagus atau tidak. Egi menggeleng.
“Bagus atau jelek?” tanya Kang Dedi.
“Jelek,” jawabnya.
“Sopan atau gak?” tanya Kang Dedi lagi.
“Nggak sopan,” jawab Egi.
“Kalau ada duren dianterin buat Bapak, kamu harusnya gimana?” tanya Kang Dedi Mulyadi.
Lagi-lagi Egi tak bisa menjawab. Mulutnya seperti terkunci. Kang Dedi sampai berkali-kali menanyakan hal yang sama seperti di atas. Egi tidak juga memberi alasan mengapa dia memakan duren milik Kang Dedi.
“Harusnya gimana?” tanya Kang Dedi mengulang pertanyaannya berkali-kali.
Egi tetap tak berani menjawab. Akhirnya Kang Dedi nyerah. Dia pun menjelaskan kepada Egi bahwa harusnya duren itu disimpan, nanti nunggu Kang Dedi Mulyadi datang.
“Pelanggaran apa gak, Om,” kata Kang Dedi ke Zamzam, kameramennya.
“Pelanggaran, Pak. Pelanggaran berat,” kata Zamzam.
“Di sini ada yang berani gak duren buat bapak dimakan lebih dulu, pas bapak mau makan duren, durennya gak ada udah dimakan sama Egi,” tanya Kang Dedi.
“Hanya Egi aja yang berani, Pak,” kata Zamzam.
“Hahaha, benar, Pak, benar, Pak,” aku Egi tertawa ngakak.
Kang Dedi pun menanyakan lagi ke Delvi, anak asuhnya yang lain. Delvi menyatakan tidak ada yang berani makan duren jatah Kang Dedi Mulyadi.
Egi tak berani menjawab. Dia terus menyelesaikan makannya. Setelah Egi selesai makan, Kang Dedi menyuruhkan mencuci piring sendiri. Kang Dedi mendidik semua orang di rumah untuk langsung mencuci piring sendiri bila selesai makan.
“Kamu nanti nggak boleh lagi, ya, kalau orang antar makanan ke bapak, pesanan Bapak anterin, nanti persoalan dibagi atau tidak setelah ada Bapak. Jangan ada makanan dikirim ke bapak disikat duluan, sendiri lagi nyikatnya. Nggak boleh itu, ya, itu tidak bisa menjaga kehormatan Bapak. Nanti nggak boleh, ya!” papar Kang Dedi mendidik.
Apa reaksi Egi? Bukan Egi namanya kalau setelah dituturi begitu kemudian bersedih atau menangis. Dasar Egi, dia tetap tertawa kecil. Tetap riang.
Sejumlah netizen pun mengacungi jempol untuk Kang Dedi Mulyadi yang memiliki kesabaran tingkat dewa dalam menghadapi Egi si anak hiperaktif ini.
"MasyaAllah Pak Haji Dedi menghadapi Egi selalu baik dan selalu sabar. Semoga Egi belajar terus belajar sedikit-sedikit lama-lama bisa mengerti," tulis @enymaharanyenyeny8720
"Senakal apa pun kelakuan Egi, Kang Dedi selalu sabar menghadapinya. Saya suka banget cara mendidiknya.
Semoga Egi makin dewasa lagi," kata @yadiardiansyah4540
"Masha Allah serasa bukan manusia sabarnya luar biasa tingkat Dewa. Egi andai saja bisa berubah," tulis @bossmuda9600. (*)