- Diskusi kesehatan di RS Premier Bintaro pada 4 Februari 2026 menyoroti pembedaan regurgitasi normal (GER) dan penyakit GERD pada bayi.
- Regurgitasi atau gumoh umum terjadi pada 30 persen bayi di enam bulan pertama dan umumnya membaik tanpa penanganan medis.
- Orang tua perlu waspada jika gumoh disertai tanda bahaya seperti berat badan tidak naik atau menolak menyusu.
Suara.com - Banyak orang tua baru panik saat melihat bayinya sering gumoh setelah menyusu. Pikiran langsung melayang ke gangguan pencernaan serius. Padahal, secara medis, kondisi ini sering kali normal dan merupakan bagian dari proses tumbuh kembang bayi.
Topik ini menjadi sorotan dalam acara Media Gathering & Health Talk yang digelar RS Premier Bintaro di Jakarta, 4 Februari 2026. Mengangkat tema seputar regurgitasi, GER, dan GERD pada anak, diskusi ini menekankan pentingnya membedakan kondisi yang masih wajar dengan yang perlu penanganan medis.
Gumoh pada Bayi Itu Umum Terjadi
Regurgitasi — atau yang lebih dikenal sebagai gumoh — adalah kondisi ketika isi lambung bayi keluar kembali melalui mulut tanpa disertai usaha muntah yang kuat. Ini terjadi karena sistem pencernaan bayi memang belum matang sempurna, terutama pada enam bulan pertama kehidupan.
Data klinis menunjukkan sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, dengan puncaknya pada usia 3–4 bulan. Kabar baiknya, kondisi ini biasanya membaik sendiri seiring pertumbuhan, dan umumnya menghilang saat bayi berusia 12 bulan.
Bayi dengan kondisi ini sering disebut “happy spitter” — artinya meskipun sering gumoh, mereka tetap aktif, mau menyusu dengan baik, dan tumbuh sesuai kurva perkembangan.
GER Biasa vs GERD: Jangan Sampai Tertukar
Regurgitasi normal secara medis disebut Gastroesophageal Reflux (GER). Ini berbeda dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), yang jumlahnya jauh lebih sedikit, hanya sekitar 3–8 persen kasus.
Menurut Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), konsultan gastrohepatologi anak yang menjadi narasumber utama dalam acara ini, tantangan terbesar memang terletak pada membedakan keduanya.
Baca Juga: Bukan Overdosis, Riwayat Medis Lula Lahfah Diungkap Polisi dan Keluarga
“Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya, sedangkan GERD jarang. GERD perlu dicurigai bila ada tanda bahaya,” jelasnya.
Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Orang tua perlu lebih waspada jika gumoh disertai gejala berikut:
- Berat badan bayi tidak naik atau justru turun
- Bayi tampak sangat kesakitan saat atau setelah menyusu
- Muntah atau gumoh disertai darah
- Bayi menolak makan terus-menerus
- Terjadi anemia
- Ada gangguan pernapasan atau neurologis
Tanpa tanda-tanda tersebut, umumnya bayi tidak memerlukan pemeriksaan medis lanjutan.
Rewel Belum Tentu GERD
Tangisan lama, bayi tampak tidak nyaman, atau gumoh yang sering bukan otomatis berarti GERD. Gejala ini juga bisa muncul pada bayi sehat atau disebabkan kondisi lain seperti alergi protein susu sapi. Karena itu, evaluasi dokter tetap penting sebelum menyimpulkan diagnosis.