Suara Denpasar – Putra sulung anggota DPR RI, Dedi Mulyadi, Ahmad Habibi Bungsu Maula Akbar menyampaikan ungkapan hatinya di tengah proses gugatan cerai ibu tirinya, Anne Ratna Mustika atau Ambu Anne terhadap ayahnya, Dedi Mulyadi.
Hal itu dia sampaikan kepada Purwanto. Purwanto berada di dua kaki. Satu sisi dia adalah Kepala Dinas Pendidikan Purwakarta, sehingga saat ini menjadi anak buah Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika.
Pada sisi lain, Purwanto yang biasa dipanggil Bos Ipung, ini juga teman karib Dedi Mulyadi saat sama-sama sebagai aktivis HMI Cabang Purwakarta. Juga sebagai anak buah Dedi Mulyadi saat jadi bupati Purwakarta dua periode.
Di luar urusan kedinasan atau jabatan, Purwanto adalah sahabat bagi Dedi Mulyadi dan Anne Ratna Mustika.
Dalam kesempatan ini, Purwanto pun mengulik bagaimana perasaan Maula Akbar, putra sulung Dedi Mulyadi dengan istri pertamanya, Sri Mulyawati.
Di satu sisi, Dedi Mulyadi adalah ayah kandungnya. Pada satu sisi lain, Ambu Anne adalah ibu sambung atau ibu tiri yang merawatnya sejak kecil. Setidaknya sejak Maula Akbar berusia 4 tahun, karena Ambu Anne dinikahi Kang Dedi Mulyadi sejak 2003.
Percakapan Purwanto pun mengalir dari urusan rumah sampai urusan pribadi Maula Akbar. Saat ini, Maula Akbar adalah ketua DPD II Golkar Purwakarta, partai terbesar di Purwakarta.
Usianya masih amat muda. Baru 23 tahun. Masih mahasiswa semester akhir di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Sejak usia 12 tahun, atau pada 2013, dia dipaksa mandiri. Tinggal sendiri di sebuah rumah di kompleks perumahan. Dia tidak tinggal di rumah dinas bupati Purwakarta lagi.
“Ayahnya juga sering bilang ke saya kalau Maula tinggal sama saya, katanya, itu dia akan penuh dengan kemanjaan. Kalau dia dipisah dengan saya, dia akan menemukan dirinya,” kata Purwanto mengingat ucapan Dedi Mulyadi, dalam yang kanal Youtube Purwanto Channel yang tayang pada 10 Januari 2023.
Berikut kami sarikan percakapan Purwanto atau Bos Ipung dengan Maula Akbar seputar jurang perceraian Anne Ratna Mustika atas Dedi Mulyadi.
Purwanto (P): Di mata Aa orang tua itu gimana sih, maupun Yudistira dan Nyi Hyang (adik-adiknya)?
Maula Akbar (MA): Ayah, embu, Yudistira, Nyi Hyang segalanya.
P: Termasuk embu?
MA: Termasuk. Karena kan walaupun, ya, mungkin semua juga tahu (Ambu Anne ibu tiri, red) gitu kan tapi setidaknya ada jasa beliau yang memang dapat membesarkan saya juga sampai hari ini.
P: Dengan kondisi seperti ini, embu sama ayah itu lagi proses (gugatan cerai), Aa menyikapinya seperti apa?
MA: Kalau saya sih menyikapinya seperti ini aja, Bos. Tugas saya sebagai anak adalah bagaimana saya bisa membanggakan orang tua saya. Jadi bagaimana orang tua itu bisa bangga terhadap saya. Cuman dengan memang adanya kondisi seperti ini hari ini, saya rasa, saya sangat yakin mereka memilih jalan yang terbaik.
P: Ada perasaan kok gini, kok gitu?
MA: Saya rasa gini sih, Bos, ya, yang namanya orang tua pasti lebih paham dan lebih berpengalaman daripada kita sebagai seorang anak. Saya rasa apapun yang memang beliau semua lakukan itu kalau memang jalannya yang terbaik, ya, saya pasti mengikuti.
P: Apapun, walaupun sampai nanti harus berpisah?
MA: Betul. Karena kalau pun saya nggak ngikutin terhadap keputusan beliau semua, otomatis saya juga sebagai anak ada hal yang berarti masa anak melawan orang tua. Apa pun karena saya dididik oleh Ayah secara militer, dikarenakan Ayah memang Bapak Mi (ayah Dedi Mulyadi, Sahlin Ahmad Suryana, red) kayak gimana gitu kan. Makanya itu kan istilahnya garis 1 komando tuh. Kalau memang sudah putusan A, ya, saya ikuti.
P: Jadi harapan Aa (atas) apa yang sedang terjadi (gugatan cerai) sekarang gimana?
MA: Semoga menjadi yang terbaik apa pun pilihannya.
P: Harapan buat ayah?
MA: Sama, yang terbaik untuk menjadi pilihan.
P: Harapan untuk embu (Anne Ratna)?
MA: Sama. Karena kan perkataan itu adalah harapan untuk dua-duanya. Yang penting yang terbaik untuk mereka.
P: Harapan untuk saudara-saudara, Nyi Hyang sama Yudistira?
MA: Yang namanya darah daging itu tidak bisa terpisahkan apapun kondisinya. Mau ada perpisahan, mau ada apa pun ceritanya, ya, kita tetap semuanya darah dagingnya, itu tidak akan bisa terlepas sampai kapan pun.
Demikian percakapan Purwanto atau Bos Ipung dengan Maula Akbar, anak sulung Dedi Mulyadi. ****