Suara Denpasar - Nikita Mirzani melayangkan kritikan pedas atas vonis majelis hakim pada Ferdy Sambo yang dijatuhi hukuman mati.
Bahkan saking kesalnya, Nikita Mirzani menyinggung tentang kematian Brigadir Joshua.
Nyai, sapaan akrab Nikita Mirzani juga menyemprot masyarakat pendukung Bharada Eliezer yang berstatus sebagai justice Collaborator pada kasus tersebut.
Peran justice Collaborator adalah sebagai saksi pelaku yang bekerjasama dengan penegak hukum untuk mengungkap kasus agar lebih gamblang.
Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pun menjatuhi Ferdy Sambo, otak pembunuhan berencana pada Brigadir Joshua dengan hukuman mati.
Sementara Bharada Eliezer divonis satu tahun dan enam bulan, kendati sebagai eksekutor dalam penembakan Nopriansyah Yoshua Hutabarat pada Jumat, 8 Juli 2022 lalu tersebut.
Sebelum kasus pembunuhan itu mencuat, Nikita Mirzani sejatinya beberapa kali tersandung sejumlah kasus namun selalu lepas dan tidak pernah ditahan.
Beberapa netizen menduga Nikita Mirzani memiliki backing kuat di kepolisian, termasuk menyeret nama Ferdy Sambo.
Tapi, Nikita Mirzani menepis tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa dia dan Ferdy Sambo tidak saling mengenal.
Baca Juga: Bucin Tingkat Tinggi! Urusan Pembalut Denise Chariesta Dipilihkan JK, Ukurannya Bikin Melongo
"Kenal aja enggak gua. Tapi kalau kalian nanya, setuju (vonis hukuman mati) gak? Tidak," jawab Nikita Mirzani dalam sebuah live streaming yang diunggah ulang oleh Instagram @lambeturah_office, Jumat (17/2/2023).
Ia beralasan vonis hukuman mati tidak manusiawi diterapkan di Indonesia.
"Karena saya sebagai manusia yang punya hati dan nurani. Saya tidak setuju hukuman mati itu ada," kata Nikita Mirzani dikutip Suara Denpasar, Jumat (17/2/2023).
Ia menambahkan, pidana maksimal seharusnya bukan hukuman mati melainkan cukup seumur hidup.
"Seumur hidup itu nanti dia akan berpikir, selama dia dipenjara mungkin selama 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun dia akan bertaubat. Kasihlah dia untuk bertaubat," pinta model berusia 36 tahun tersebut.
Nikita Mirzani menilai bahwa hukuman mati tidak menyelesaikan masalah, hingga ia menyinggung kematian Brigadir Joshua.