Kang Dedi kemudian memesan kue combro sebanyak 20 biji. Dia menanyakan berapa jadinya kalau 1 biji seharga Rp10 ribu.
Si pedagang kebingungan. Dia tak bisa menghitung dengan tepat.
“Rp200 ribu, eh, Rp100 ribu?” tanya pedagang.
“Kan ibu yang dagang. Coba hitung,” katanya.
Ketika pedagang tak kunjung menyebutkan berapa total uang yang harus dibayar untuk 20 combro, Kang Dedi menambah pesanan 10 lagi. Dengan sigap, si pedagang memasukkan combro ke plastik kresek.
Ternyata jumlah combronya tidak cukup. Sudah habis. Hanya ada 5 combro lagi. Si pedagang menawarkan misro dan bakwan.
“Gak mau. Combro aja,” kata Kang Dedi masih dengan intonasi tegas.
“Berapa Rp10 ribu kali 25?” tanya Kang Dedi.
Ibu pedagang ini menebak-nebak. Dia menyebut Rp250 ribu, tapi agak ragu. Dia mengaku tidak sekolah. Mantan bupati Purwakarta ini akhirnya minta tambah misro sebayak lima. Sehingga total kue yang dibeli Kang Dedi sebanyak 30 biji.
Baca Juga: Kang Dedi Terkejut Ada Bocah SD Ngamen untuk Beli Motor Bercita-cita Jadi Anggota Ormas
“Alhamdulillah, Bapak. Bisa buat bayar zakat. Alhamdulillah,” ucap si pedagang sambil menyerahkan misro ke bapak tiga anak ini.
Sang ibu mengatakan, dia ingin agar anak peremuannya, si bungsu, yang masih sekolah kelas 3 SMA bisa ikut membayar zakat fitrah jelang Lebaran ini. Dia mengaku suaminya dulu bekerja sebagai office boy (OB) di proyek PT Adhi Karya, namun sudah meninggal dunia tiga tahun lalu.
Dia memiliki empat anak. Anak pertama sampai ketiga sudah menikah. Tinggal si bungsu.
“Kenapa ibu bayar zakat. Harusnya kan ibu yang dapat zakat. Anak ibu kan yatim,” tandas Kang Dedi.
Sang ibu pedagang tidak tahu. Dia kebingungan. Dia sudah biasa membayar zakat. Dia merasa tidak miskin meski cuma sebagai pedagang kue keliling.
Sang ibu mengatakan anaknya yang bungsu sedang di rumah, membuat combro.