Suara Denpasar - Usianya sudah tidak terbilang muda lagi. Kulitnya berkerut dengan rambut memutih termakan usia. Penjual sate kulit ini berkeliling desa ditemani sang istri. Kebetulan, Dedi Mulyadi bersama putri bontotnya, Nyi Hyang sedang berolahraga pagi itu.
Kang Dedi secara insting memanggil keduanya. Barang dagangan kakek dan nenek ini pun ditawarkan kepada warga sekitar. Sambil berbincang-bincang, Kang Dedi pun mengulik masa lalu si kakek. Ternyata, dia adalah mantan sopir truk.
Namun, karena pandemi Corona akhirnya sepi job dan menganggur. Singkat kata, karena tidak betah menganggur dan masih memiliki tanggung jawab.
Kakek ini pun berinisiatif bersama sang istri berjualan sate kulit. Di mana yang membersihkan bahan-bahan adalah dirinya. Sedangkan sang istri membuat adonan bumbu serta meracik sate tersebut.
Per hari, jika semua laku diborong pembeli. Keuntungan yang di dapat sekitar Rp 150 ribu. Tapi, namanya berdagang tentu tak semudah angan.
"Namanya hidup tentu ada suka dan duka," begitu kata Kang Dedi dalam bahasa Sunda saat bercakap-cakap dengan pasangan manula itu dikutip denpasar.suara.com dari kanal youtubenya, Selasa 13 Juni 2023.
Pada kesempatan itu, Kang Dedi juga memuji kesetiaan sang kakek karena saat menjadi sopir tidak pernah berselingkuh. Itu tentu harus di syukuri oleh sang istri. Meningat, sangat jarang seorang lelaki bia begitu setia.
"Keren sajan," ujar Kang Dedi. Pada kesempatan itu, Kang Dedi juga memborong barang dagangan kakek dan nenek penjual sate kulit ini. "Kalau orang bersyukur kayak gini. Dibantu, sedih keluar air mata. Ibu punya suami keren banget," puji Kang Dedi.