Suara Denpasar - Daniel Ginting, pecinta karya dan sejarah hudup Hendra Gunawan bertutur bahwa masyarakat Seni Rupa Indonesia tentu tak asing lagi dengan maestro Hendra Gunawan. Sejarah hidup sosok satu ini pun diceritakan dengan lugas dan gamblang oleh sang istri, Nuraeni HG.
Melalui penuturan Daniel Ginting yang juga penggagas acara artist talk Nuraeni HG Hajat Riwayat (Merayakan Seni Sebagai Jalan Hudup) bahwa Nuraeni pun mengisahkan beragam karya sang maestro yang pernah di penjara di Kebon Waru tersebut.
"Saya kan yang menyiapkan warna-warna yang diperlukan Pak Hendra, begitu Pak Hendra berteriak Nur siapkan cobalt blue, yellow orange, green, maka saya harus sigap untuk menyiapkannya," katanya kepada Daniel Ginting dikutip, Minggu 18 Juni 2023.
Ditambah lagi, ketika beberapa bidang kosong dari hasil sket lukisan dibantu diisi warnanya oleh Nuraeni. Beliau berada di samping sang maestro ketika skets dibuat, komposisi diatur atau bahkan ketika Hendra Gunawan meminta Nuraeni menjadi bagian tim untuk memenuhi pesanan lukisan dalam jumlah yang banyak. Lantas Nuraeni dikatakan atau tepatnya diberikan stigma tidak memahami karya-karya Hendra Gunawan baik itu tentang komposisi, warna maupun merek cat yang digunakan.
Belum sampai disitu, Nuraeni melanjutkan saat dipenjara untuk mendapatkan warna-warna itu tidak mudah, adakalanya kiriman warna datang banyak, adakalanya pula datang terlambat, yang terjadi Hendra harus menghemat warna.
Sebetulnya teka-teki warna muram sejatinya bukan karena kepedihan namun bisa diartikan memang warna terbatas.
Sesekali tidak sadar saya mengercingkan mata ahaha jelaskan dari yang suka menebak-nebak itu?
Dalam tulisannya, Ginting sependapat dengan Jean Couteau, bahwa baik karya Hendra Gunawan dan Nuraeni memang membahas tentang kerakyatan, namun tidak dihadirkan atas konflik tapi justru terlihat harmoni.
Karya-karya Nuraeni dan Hendra Gunawan memang telah menghadirkan karakter dimana keduanya terlihat halus, meskipun ketika ingin menyuarakan keras tiba-tiba sangat terkendali menjadi halus kembali.
Baca Juga: Sebelum Jadi Tersangka, Oknum Polda Bali Desak Dirut PT Tebing Mas Jual Tanah
Bisa saja baik Hendra Gunawan maupun Nuraeni sangat mengerti apa yang terjadi dalam melihat masalah, mereka terlihat seperti sangat piawai dalam merasionalitaskan apa yang dihadirkan, bukan sekedar faktor politik yang dikedepankan namun lebih ke faktor kultural yang jernih dan damai.
Seperti halnya pada kehadiran sosok perempuan yang hadir sebagai bagian yang normatif, semisal sosok keibuan, orang sederhana, dan orang yang mencerminkan kerakyatan. Dan ini semuanya tiba-tiba dipertegas melalui pernyataan Nuraeni, bahwa kepadanya telah disampaikan rahasia-rahasia yang diselipkan di dalam karya sang maestro.
Berikut pula yang disampaikan Risa Permanadeli sangat menarik, bahwa selama ini banyak orang masih mempersoalakan watak atau style dari lukisan Nuraeni serupa dengan suaminya Hendra Gunawan, sehingga orang selalu mengatakan ia meniru dan lain sebagainya.
Karena sebetulnya apa masalahnya kalau ia meniru ?, menurut Risa alasan seorang Nuraeni karena memang ia disuruh melukis oleh Hendra Gunawan dan diajari. Dan dalam kontek belajar tersebut, harus dicatat bahwa selama lima tahun dirinya betul-betul di-drill dari pagi hari hingga sore hari.
Dalam arti tertentu, sebetulnya kesemuanya adalah keinginan Hendra Gunawan untuk memproteksi Nuraeni, tetapi waktu lima tahun itu membuat Nuraeni memiliki kontak yang paling intensif bersama Hendra Gunawan.
Bila ada yang mengatakan karya Nuraeni kok mirip dengan Hendra Gunawan, tentu jawabnya sudah sangat jelas, bahwa selama kegiatan melukis dengan Hendra Gunawan, mau tidak mau pasti akan menurunkan seluruh pengetahuan yang dimiliki oleh Hendra Gunawan, misalnya entah itu cara menggerakkan atau menggoreskan kuas, cara mencampur warna, cara membikin anatomi, dan sebagainya. Sehingga dengan sendirinya ketika ia akan melukis, kebanyakan yang keluar adalah apa yang dia peroleh selama lima tahun bersama sang guru. ***