Suara Denpasar - Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto sempat menjadi ateis. Ilmu sains yang mengedepankan akal membuat dia tak percaya Tuhan. Walau begitu, putra budayawan Muhammad Ainun Nadjibalias Cak Nun itu sudah kembali bergama Islam. Dia menceritakan dua hal yang menjadi dasar kembali memeluk agama yang dibawa Muhammad SAW itu.
Pada tahun 2006, Sabrang Mowo Damar Panuluh melanjutkan pendidikan ke University of Alberta, Kanada. Noe Letto kuliah di dua jurusan sekaligus. Matematika dan Fisika. Dua ilmu eksakta itu membuat Noe berpikir sangat logis. Lima tahun kemudian, dia menggondol bachelor of sciens atau B.Sc (sarjana sains) dari Matematika dan Fisika.
Saat-saat bergumul dengan sains ini lah yang membuat Noe sempat mempertanyakan keberadaan Tuhan. Vokalis band Letto ini sanksi Tuhan itu ada. Apalagi, sains memang tidak menyentuh yang gaib tersebut.
Saat hadir dalam podcast Deddy Corbuzier, Noe Letto menceritakan mengapa dia akhirnya kembali ke Islam. Dia mengatakan ada sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan melalui sains, namun hanya dijelaskan melalui agama.
"Apa itu?" tanya Deddy dalam kanal Youtube Deddy Corbuzier, dikutip pada Rabu (19/7/2023).
Dia menyebut, dua hal yang membuatnya kembai berislam. Pertama soal anak setan, kedua soal Perjanjian Hudaibiyah.
Kepada seorang ulama yang dia sebut syekh, Noe mengetes dengan pertanyaan apakah "Tuhan Maha Adil", "setiap setan masuk neraka", "setan berkembang biak", dan "ada kiamat". Semua proposisi itu dijawab syekh: "ya."
Kemudian, dia menjebak dengan pertanyaan bagaimana jika ada anak setan lahir sedetik sebelum kiamat, dan kala itu si anak setan kejahatan atau dosa, lantas apakah anak setan itu masuk neraka atau surga.
"Kalau dia masuk neraka artinya premis bahwa Tuhan adil salah. Kalau masuk surga (maka) salah juga karena setiap setan masuk neraka," terangnya.
Jawaban syekh tersebut membuat dia merasa seperti tertampar. Sebab, syekh itu tidak mengajukan jawaban, justru mengajukan pertanyaan atas proposisi yang dia ajukan.
Pertanyaannya, kalau "setan berkembang biak", maka setan itu berkembang biak dengan cara apa. Noe tersengat, karena dia pun tak tahu. Justru dia sadar, proposisi yang diajukannya mengandung asumsi yang belum dia cari kebenarannya.
Di alam saat ini, ada banyak macam cara berkembang biak. Bisa melalui berpasangan, hermafrodit, membelah diri, spora, dan lainnya.
Selanjutnya, syekh itu menanyakan bagaimana penghitungan dosa. Apakah jika berkembang biak dengan cara membelah diri, maka dosanya menurun pada anak setan itu. Noe mengatakan bisa saja begitu, namun yang pasti dia tidak bisa menjelaskan premis jika tidak tahu mekanismenya.
"Yang saya ambil ilmunya dari situ adalah, semua statement (saya) itu mengandung background informasi dan mengandung asumsi. Saya belum bisa ngomong statement itu sevalid apa sebelum saya nge-track semua asumsi yang saya miliki," jelasnya.
Meski tidak mendapat jawaban dari sang syekh, Noe tersadar bahwa teori yang dia ajukan masih memiliki kelemahan. Walau begitu, dia tertampar atas teori yang diajukan syekh, meski itu bukan jawaban.