Suara Denpasar - Dunia sepak bola Indonesia kembali menjadi sorotan dengan isu PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) akan keluar dari Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF). Tidak hanya menjadi perbincangan di tingkat nasional, isu potensialnya Indonesia keluar dari AFF juga menarik perhatian media internasional, termasuk dari media Tiongkok.
Dilansir dari akun Instagram @gozipbola, rumor ini menjadi pusat perbincangan setelah pernyataan dari Ketua Badan Tim Nasional (BTN) Indonesia, Kombes Sumardji, yang mempertimbangkan ulang keikutsertaan Timnas Indonesia dalam turnamen di bawah naungan AFF.
Desakan agar Timnas Indonesia meninggalkan AFF juga muncul dari Achsanul Qosasi, bos Madura United. Motivasi di balik desakan ini muncul dari persepsi bahwa Indonesia telah kerap mengalami kerugian akibat keputusan wasit selama Piala AFF U-23 tahun 2023.
Salah satu media Tiongkok, Sohu, turut menyoroti kemungkinan Indonesia mengajukan diri untuk bergabung dengan EAFF (East Asian Football Federation).
"Menurut informasi terkini, Indonesia kembali mempertimbangkan untuk meninggalkan AFF dan mungkin mengajukan permohonan untuk bergabung dengan EAFF. Namun, saat ini kursi puncak EAFF sedang kosong, dan presiden Du Zhao Cai telah dipecat," tulis media Tiongkok Sohu dikutip dari akun Instagram @gozipbola (31/8/2023).
EAFF adalah wadah bagi negara-negara sepak bola Asia Timur, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Korea Utara. Dalam pandangan media Sohu, kehadiran Indonesia dalam EAFF akan memberikan tekanan signifikan kepada Tiongkok, terutama dalam persaingan dengan Jepang dan Korea Selatan.
Namun, Sohu juga menggarisbawahi kompleksitas peralihan keanggotaan ini. Langkah Indonesia untuk bergabung dengan EAFF dihadapkan pada beberapa kendala. Pertama-tama, langkah ini membutuhkan persetujuan dari dewan eksekutif EAFF. Selain itu, posisi kepemimpinan EAFF saat ini sedang kosong akibat pemecatan presiden sebelumnya.
Sementara, pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, menghadapi konflik dengan KFA (Korea Football Association) dan hubungan Indonesia dengan Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) juga tidak terlalu dekat. Padahal dengan bergabungnya Indonesia di EAFF tidak secara otomatis akan meningkatkan kualitas sepak bola Korea dan Jepang.
Media Tiongkok Sohu menyimpulkan bahwa langkah Indonesia untuk bergabung dengan EAFF, meskipun memiliki potensi dampak yang signifikan terhadap kompetisi, akan menghadapi berbagai kendala yang kompleks.
Persetujuan dewan eksekutif EAFF dan dinamika internal di antara negara-negara anggota akan menjadi faktor penentu apakah langkah ini dapat terealisasi. (*/Dinda)