Suara Denpasar - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, telah mengumumkan rencana pengerjaan proyek Light Rail Transit (LRT) Bali.
Menurutnya, peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek LRT yang akan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan Seminyak dan Canggu di Pulau Bali direncanakan akan dilakukan pada awal tahun 2024.
Seperti dikutip denpasar.suara.com dari akun TikTok @Halo Bali, proyek LRT Bali ini menjadi sangat penting karena Bandara Ngurah Rai diproyeksikan akan melayani sekitar 24 juta penumpang per tahun pada tahun 2026 mendatang. Tanpa pengembangan sistem transportasi yang memadai, risiko penumpukan penumpang di bandara tersebut semakin meningkat.
Luhut menjelaskan bahwa meskipun studi untuk pembangunan LRT ini telah lama dilakukan, proyek tersebut sempat mandek akibat pandemi COVID-19. Namun, kini pemerintah berupaya untuk menghidupkan kembali proyek tersebut.
Rencananya, LRT Bali akan memiliki lintasan sepanjang 20 kilometer dari Bandara Ngurah Rai hingga Seminyak dan Canggu.
Terkait tarif tiket, Luhut menyatakan bahwa harga tiket yang sedang dipertimbangkan berkisar antara USD 1 hingga USD 2 atau berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 31 ribu yang tentunya terbilang terjangkau.
Yang membedakan LRT Bali dengan proyek LRT lainnya seperti LRT Jakarta, Jabodebek, dan Palembang adalah rencana untuk membangun sistem ini di bawah tanah (underground).
Keputusan ini diambil untuk mematuhi aturan pembangunan di Pulau Dewata yang melarang pembangunan di atas tanah, mengingat banyaknya bangunan suci seperti pura di Bali.
Proyek ini akan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan Extended Terminal dan area parkir di Kuta Central Park. Rute awal ini sepanjang 5,3 kilometer diharapkan menjadi langkah pertama dalam pembangunan proyek ini.
Baca Juga: Dewan Mencak-mencak, Paripurna Bupati dan Wabup Karangasem Tak Hadir
Meskipun pembangunan LRT di bawah tanah diproyeksikan akan menghabiskan dana hingga tiga kali lipat dari pembangunan konvensional, dengan perkiraan sekitar USD 596,28 juta atau Rp 9,17 triliun, pemerintah mencari dukungan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain untuk pembiayaan proyek ini.
Rencananya, pemerintah akan memanfaatkan pinjaman lunak dan membentuk Special Purpose Vehicle (SPV) antara PT Angkasa Pura I dan BUMD sebagai implementing agency.
Ini sejalan dengan rencana untuk mengenakan charge kepada penumpang pesawat sebagai sumber pendanaan untuk proyek LRT ini, dengan potensi penumpang mencapai 58 ribu.
"Jarak dari bandara ke Seminyak dan mungkin hingga ke Canggu adalah sekitar 20 kilometer. Saat ini, kami sedang mempertimbangkan penetapan harga tiket antara 1 hingga 2 dolar AS per penumpang. Sehingga proyek ini dapat dibiayai melalui pembiayaan publik," tukasnya. ***