Suara Denpasar - Seorang kakek bernama Karno, ia mengaku menjadi saksi atas peristiwa meninggalnya warga satu desa di salah satu wilayah Jawa Tengah.
Cerita itu disampaikan kepada sang cucu yang bernama Rian, dimana kejadian itu kabarnya terjadi pada tahun 1955, ketika sang kakek masih remaja.
Rian kemudian mengirimkan cerita ini via email hingga tersebar luas. Berikut ini cerita kesaksian seorang kakek soal satu desa meninggal dalam satu hari di Jawa Tengah, dilansir Suara Denpasar dari kanal YouTube Hirotada Radifan pada Kamis, (26/10/2023).
Kondisi Desa Sebelum Insiden Terjadi
Karno menceritakan pada tahun 1955 ketika ia masih remaja ia tinggal di salah satu desa di Jawa Tengah yang namanya disamarkan olehnya menjadi Desa Nasiran.
Desa Nasiran berdekatan dengan Desa Gegetan (nama samaran), dua desa itu terletak di Jawa Tengah, di salah satu wilayah kaki gunung.
Karno menceritakan bahwa saat itu tengah terjadi kekeringan hingga warga Desa Nasiran dan desa-desa lainnya di Jawa Tengah mengalami gagal panen.
Namun, hanya Desa Gegetan yang subur makmur dan tidak mengalami gagal panen. Karno dan ayahnya kemudian kerap bekerja sebagai buruh tani di desa tetangganya itu untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Jadi, Desa Gegetan merupakan desa yang diceritakan sangat subur, bahkan saat desa-desa lain gagal panen, hanya desa itulah yang tidak mengalaminya.
Kemaksiatan Warga Desa Gegetan
Kakek Karno menceritakan kesaksiannya ketika muda, dimana ia melihat warga desa Gegetan yang merupakan desa tetangganya itu memiliki sikap yang tidak bersyukur.
Bukannya mensyukuri keberkahan yang dilimpahkan tuhan di desanya, mereka malah sering merayakan pesta besar-besaran sebagai rasa bangga atas panen besar-besaran di tengah bencana gagal panen yang dialami desa-desa lainnya.
Karno bercerita, bahwa dalam pesta besar-besaran itu mereka melakukan tindakan yang salah menurut agama, yaitu mabuk-mabukan, berjudi dan seks bebas.
Ayah karno yang bukan warga Desa Gegetan pun selalu diundang ke pesta tersebut, pesta itu digelar selama 7 hari 7 malam.
Bahkan, Karno seringkali ikut ayahnya ke acara pesta itu dan melihat ayahnya sendiri bermain judi dan mabuk-mabukan.
Insiden Tewasnya Warga Satu Desa dalam Satu Malam
Di malam pesta ke-6, Karno tidak bisa ikut ayahnya ke acara pesta tersebut lantaran kakinya bengkak, bahkan ia kesulitan untuk berjalan.
Konon katanya, ia bermimpi mendengar ledakan hingga rumahnya runtuh menimpa kakinya yang tiba-tiba benar-benar bengkak saat bangun dari mimpi.
Di malam ke-6 pesta warga Desa Gegetan, Karno mendengar secara jelas ledakan besar, dan itu bukan mimpi.
Bahkan ia dan ibunya pergi keluar rumah, lantaran ledakan itu dibarengi dengan gempa bumi, terlihat warga-warga Desa Nasiran juga keluar dari rumah mereka panik.
Keesokan harinya, ternyata ledakan itu berasal dari Desa Gegetan yang tengah menggelar pesta hari ke-6 mereka, tiba-tiba semua orang dikejutkan dengan situasi Desa Gegetan yang sudah tertimbun.
Berdasarkan kesaksian Karno, Desa Gegetan itu berada tepat di kaki gunung, dan longsor besar dari gunung terjadi malam itu hingga menimbun satu desa tetangganya itu.
Ia menceritakan bahwa seluruh warga Desa Gegetan meninggal saat itu juga dan tidak ada yang selamat, bahkan ayahnya yang bukan warga Desa Gegetan namun ikut merayakan pesta juga menjadi korban dari insiden tersebut.
Karno menyimpulkan bahwa kejadian itu merupakan azab atau kutukan untuk warga Desa Gegetan yang melakukan maksiat besar-besaran dan tidak mensyukuri berkah yang tuhan berikan kepada mereka.
Disclaimer: cerita ini merupakan kesaksian dari salah satu warga di Jawa Tengah, siapapun boleh percaya atau tidak percaya, tetap berpegang teguh pada kepercayaan masing-masing. (*/)